Senja di Kafe Nostalgia
Chapter 1 — Senja di Kafe Nostalgia
Aroma kopi yang memabukkan dan suara denting sendok di cangkir seakan menari di telingaku. Lima tahun. Lima tahun sejak aku terakhir kali menginjakkan kaki di kafe ini, Kafe Nostalgia, tempat di mana hatiku pernah singgah dan kemudian patah berkeping-keping.
Aku, Riana, kembali ke kota kecil ini setelah bertahun-tahun melarikan diri dari bayang-bayang masa lalu. Kota ini, dengan jalanan berliku dan rumah-rumah beratap merah, menyimpan kenangan pahit dan manis tentang seorang pria bernama Sius. Pria yang pernah menjadi duniaku, pria yang pernah berjanji akan menua bersamaku.
Kafe Nostalgia masih sama seperti dulu. Meja-meja kayu yang sedikit usang, lukisan-lukisan abstrak yang menghiasi dinding, dan aroma kopi yang selalu berhasil membuatku merasa nyaman. Aku memesan kopi latte, minuman favoritku, dan duduk di sudut ruangan, tempat favorit kami dulu.
Kenangan tentang Sius menyerbu pikiranku. Senyumnya, tatapannya, sentuhannya… semuanya masih terasa begitu nyata. Kami bertemu di kafe ini, jatuh cinta di kafe ini, dan akhirnya berpisah di kafe ini. Sebuah perpisahan yang menyisakan luka mendalam di hatiku.
Aku mencoba untuk fokus pada kopiku, berusaha mengusir bayangan Sius dari benakku. Namun, percuma. Setiap sudut kafe ini mengingatkanku padanya. Aku menyesap kopi latteku perlahan, membiarkan rasa pahit dan manisnya menyatu di lidahku, sama seperti pahit dan manisnya kenangan tentang Sius.
Tiba-tiba, pintu kafe terbuka. Seorang pria masuk, dan jantungku berdebar kencang. Sosok itu tampak familiar, namun ada sesuatu yang berbeda. Rambutnya lebih pendek, wajahnya lebih dewasa, dan ada sedikit kerutan di sekitar matanya. Tapi, aku yakin itu dia. Sius.
Matanya bertemu dengan mataku. Ekspresinya berubah dari terkejut menjadi… entahlah. Aku tidak bisa membaca pikirannya. Dia berjalan mendekatiku, langkahnya ragu-ragu. "Riana?" tanyanya dengan suara pelan. Aku hanya bisa mengangguk, lidahku terasa kelu. Sebelum aku sempat mengucapkan sepatah kata pun, seorang wanita cantik menghampirinya dan menggandeng lengannya. "Sayang, siapa ini?" tanyanya dengan nada manja. Sius menatapku, lalu menatap wanita di sampingnya. "Ini… ini Riana, teman lamaku."