Senja di Kafe Nostalgia

Chapter 2 — Bayangan di Meja Kaca

Aroma kopi yang pekat bercampur dengan wangi kue jahe menyambut Riana begitu ia melangkah masuk ke Kafe Nostalgia. Jantungnya berdegup kencang, memori masa lalu berputar bagai film lama. Setiap sudut kafe ini menyimpan cerita tentang dirinya dan Sius – tawa mereka yang lepas, bisikan janji, dan akhirnya, air mata perpisahan yang pahit.

Ia memilih meja di dekat jendela, meja yang sama tempat mereka pertama kali bertukar pandangan bertahun-tahun lalu. Jemarinya mengusap permukaan meja kaca yang dingin, membayangkan wajah Sius yang tersenyum menatapnya. Namun, bayangan itu segera buyar ketika seorang pelayan menghampiri.

"Selamat datang di Kafe Nostalgia. Ada yang bisa saya bantu, Mbak?"

"Satu Americano, dingin," jawab Riana, suaranya sedikit bergetar. Ia mencoba mengendalikan gejolak di dadanya. Kehadiran Sius di tempat ini, di saat ia mencoba menata kembali kepingan hatinya, terasa seperti sengatan. Terlebih lagi, ia melihat Sius duduk di sudut lain kafe, bersama seorang wanita.

Wanita itu… cantik. Rambutnya tergerai hitam legam, matanya berbinar saat tertawa lepas mendengar ucapan Sius. Sius sendiri terlihat begitu nyaman, begitu bahagia. Senyumnya begitu tulus, senyum yang dulu sering Riana lihat saat mereka bersama. Rasa sesak mulai mencekik Riana. Ia telah bertekad untuk tidak larut dalam kesedihan, untuk membangun hidup baru. Namun, melihat pemandangan di depannya, seolah semua tekadnya runtuh seketika.

Pelayan datang membawa pesanannya. Riana meraih gelas dingin itu, menghirup aroma kopi yang menenangkan. Ia menunduk, berusaha menyembunyikan matanya yang mulai memanas. Ia tak boleh menangis di sini. Tidak di tempat yang menyimpan begitu banyak kenangan tentang mereka.

Tiba-tiba, suara yang sangat ia kenal terdengar dari meja di seberang.

"Sayang, kamu yakin mau pesan itu? Tadi dokter bilang kamu harus banyak istirahat," ujar Sius dengan nada khawatir. Ia mengulurkan tangan, menyentuh lembut punggung tangan wanita di sebelahnya.

Riana tersentak. Kata-kata itu… begitu akrab. Begitu manis. Dan begitu menyakitkan.

Ia mengangkat kepalanya perlahan, pandangannya tertuju pada tangan Sius yang membelai tangan wanita itu. Jantungnya serasa berhenti berdetak. Rasa dingin menjalar di sekujur tubuhnya, lebih dingin dari Americano di genggamannya.

Ia mengenal warna lipstik itu. Merah delima. Warna yang sama dengan lipstik yang selalu ia kenakan saat bertemu Sius di kafe ini. Dan… ia juga mengenal wanita itu. Sangat mengenalnya.

Wanita itu menoleh, tatapannya bertemu dengan tatapan Riana. Senyumnya memudar, tergantikan ekspresi terkejut yang tak bisa disembunyikan. Ia adalah…