Senja di Kafe Nostalgia
Chapter 3 — Bayangan di Cermin Kafe
Riana menahan napas, jantungnya berdebar tak karuan. Wajah wanita itu, yang kini terpampang jelas di hadapannya, terasa seperti tamparan keras. Tidak mungkin. Ini pasti mimpi buruk. Wanita itu adalah Maya, sahabatnya sejak SMP, orang yang paling ia percayai di dunia ini. Bagaimana bisa Maya bersama Sius? Dan terlihat begitu mesra?
Sius tertawa mendengar sesuatu yang dikatakan Maya, lengannya melingkar di pinggang wanita itu dengan posesif. Sebuah pemandangan yang sangat menyakitkan bagi Riana, seolah mengulang kembali luka lama dengan tusukan yang lebih dalam. Ia merasa mual. Seharusnya ia tidak datang ke sini. Seharusnya ia tidak mengusik masa lalu yang sudah ia kubur dalam-dalam.
"Riana?" Suara bariton yang familiar itu menyentak lamunannya. Sius. Dia berdiri di sana, tepat di depannya, dengan mata yang sama indahnya seperti dulu, namun kini memancarkan kehangatan yang bukan untuknya. Di sampingnya, Maya tersenyum canggung, senyum yang Riana tidak pernah lihat sebelumnya di wajah sahabatnya itu.
"Sius..." Riana berhasil mengeluarkan suara serak. Pandangannya beralih dari Sius ke Maya, mencari jawaban, mencari penjelasan. Namun, yang ia temukan hanyalah rasa bersalah di mata Maya dan tatapan penuh tanya dari Sius.
"Kau kembali? Kapan?" tanya Sius, ekspresinya berubah dari terkejut menjadi sedikit canggung. Ia menarik Maya lebih dekat.
"Beberapa hari yang lalu," jawab Riana singkat, berusaha mengendalikan getaran di suaranya. Ia melirik Maya. "Maya, kau..." Kalimatnya terputus saat Maya memalingkan wajah, tidak sanggup menatap Riana.
Sius mengerutkan kening. "Kalian saling kenal?" tanyanya, nadanya terdengar geli bercampur bingung.
Riana tertawa getir. Saling kenal? Ya, sangat saling kenal. Ia mengenali Maya sebagai sahabat terbaiknya, dan kini ia melihat Maya sebagai wanita yang merebut pria yang pernah dicintainya. Rasa sakit itu kembali menyeruak, lebih kuat dari sebelumnya.
Ia membalas tatapan Sius dengan sengit. "Ya, Sius. Kami saling kenal. Dan sepertinya ada banyak hal yang tidak kuketahui terjadi saat aku pergi." Riana berbalik badan, tidak ingin lagi menyaksikan pemandangan menyakitkan ini. Ia melangkah cepat menuju pintu keluar kafe, meninggalkan Sius dan Maya yang masih berdiri terpaku di tempat mereka. Begitu ia sampai di luar, ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengusir rasa sesak di dadanya. Ia harus pergi dari sini. Tapi saat ia berbalik, ia melihat sebuah mobil yang dikenalnya terparkir di seberang jalan. Mobil ayahnya. Dan di dalamnya, ia melihat sosok ayahnya sedang menatap ke arah kafe dengan ekspresi yang sulit diartikan.