Sentuhan Terlarang di Villa Anggrek
Chapter 10 — Mata Biru Pengkhianatan
Jantungku berdebar kencang. Pengkhianatan terasa begitu pahit di lidahku. Raden, berdiri di sana, di sisi Arya dan wanita itu. Matanya… matanya biru menyala, seperti lautan yang menyimpan rahasia kelam. Itu bukan mata Raden yang kukenal.
"Raden?" bisikku, suaraku bergetar. Aku tidak percaya dengan apa yang kulihat. Bagaimana bisa?
Raden tidak menjawab. Dia hanya menatapku, ekspresinya kosong, tanpa emosi. Seperti boneka yang dikendalikan oleh benang tak kasat mata.
Wanita misterius itu tersenyum sinis. "Kau sudah membuat pilihan, Larasati. Sekarang, kau harus menerima konsekuensinya."
Arya tertawa. Tawa yang membuat bulu kudukku meremang. "Lihatlah, Larasati. Bahkan kekasihmu sendiri berpihak padaku. Kau tidak punya tempat untuk bersembunyi."
Aku menggelengkan kepala, tidak percaya. "Tidak… ini tidak mungkin. Raden tidak akan…"
"Raden sudah membuat kesepakatan," kata wanita itu, memotong ucapanku. "Dia berjanji untuk melayaniku, sebagai imbalan atas kebebasanmu… atau begitulah yang dia pikirkan."
"Kebasan?" Aku bertanya. Bingung. "Kebasan dari apa?"
"Kebasan dariku, tentu saja," wanita itu tersenyum, memperlihatkan gigi putihnya yang tajam. "Raden sangat mencintaimu, Larasati. Dia bersedia melakukan apa saja untukmu. Bahkan, mengorbankan dirinya sendiri."
Aku menatap Raden lagi. Matanya masih biru menyala, tapi kali ini, aku melihat sesuatu yang lain di sana. Kesedihan. Penyesalan. Seolah-olah dia terperangkap dalam mimpi buruk, dan tidak bisa bangun.
"Raden… katakan sesuatu," pintaku, air mata mulai mengalir di pipiku. "Katakan bahwa ini tidak benar."
Raden membuka mulutnya, tapi tidak ada suara yang keluar. Kemudian, dia menggelengkan kepalanya perlahan.
"Cukup!" teriak Arya. Dia maju ke arahku, matanya berkilat marah. "Aku sudah muak dengan drama ini. Sekarang, saatnya kau membayar atas semua yang telah kau lakukan."
Arya meraih tanganku, mencengkeramnya erat. Aku mencoba melepaskan diri, tapi sia-sia. Cengkeramannya terlalu kuat.
"Lepaskan aku!" teriakku, berusaha memberontak.
"Tidak akan," kata Arya, senyumnya semakin lebar. "Kau akan menjadi milikku, selamanya."
Tiba-tiba, Raden bergerak. Dia melangkah maju, menghalangi Arya.
"Jangan sentuh dia," kata Raden, suaranya dingin dan datar. Itu bukan suara Raden yang kukenal. Suara itu… asing dan menakutkan.
Arya menatap Raden, bingung. "Apa yang kau lakukan? Kau berpihak padaku, bukan?"
Raden tidak menjawab. Dia hanya menatap Arya dengan tatapan yang membeku.
Kemudian, tanpa peringatan, Raden menyerang. Dia meninju Arya di wajah, membuatnya terhuyung mundur.
"Raden!" teriakku, terkejut.
Raden tidak menghiraukanku. Dia terus menyerang Arya, dengan kekuatan yang luar biasa. Arya mencoba melawan, tapi dia tidak berdaya menghadapi amarah Raden.
Wanita misterius itu hanya berdiri di sana, menyaksikan pertarungan itu dengan ekspresi datar.
Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku merasa seperti sedang berada dalam mimpi buruk yang tidak berujung.
Pertarungan itu berlangsung singkat. Dalam hitungan detik, Arya sudah terkapar di lantai, tidak sadarkan diri.
Raden berdiri di atas tubuh Arya, napasnya terengah-engah. Kemudian, dia berbalik menghadapku. Matanya masih biru menyala, tapi kali ini, aku melihat sedikit kebingungan di sana.
"Larasati…" bisiknya, suaranya terdengar serak.
Sebelum aku sempat menjawab, wanita misterius itu bergerak. Dia mengulurkan tangannya ke arah Raden, dan sebuah cahaya biru menyelimutinya.
Raden berteriak kesakitan. Tubuhnya bergetar hebat. Kemudian, dia jatuh ke lantai, tidak sadarkan diri.
"Raden!" teriakku, berlari ke arahnya.
Wanita misterius itu tersenyum sinis. "Dia sudah tidak berguna lagi bagiku. Sekarang, giliranku untuk berurusan denganmu, Larasati."
Dia melangkah maju ke arahku, dan aku tahu bahwa aku tidak bisa melarikan diri. Aku terjebak. Terjebak dalam permainan yang berbahaya, dengan taruhan yang terlalu tinggi.
"Apa yang kau inginkan dariku?" tanyaku, suaraku bergetar.
Wanita misterius itu mendekatiku, membisikkan sesuatu di telingaku. Kata-katanya membuat darahku membeku.
"Aku menginginkan hatimu, Larasati. Hati yang penuh dengan cinta dan pengorbanan. Hati yang akan membantuku membuka gerbang…"
Dia tidak menyelesaikan kalimatnya. Tiba-tiba, sebuah suara menggelegar di dalam kepalaku, memekakkan telinga. Suara itu… suara yang sama yang kudengar sebelumnya. Suara yang memperingatkanku tentang bahaya yang akan datang.
*Jangan percaya padanya, Larasati. Dia berbohong. Dia akan menghancurkanmu.*
Aku memegangi kepalaku, berusaha menahan sakit yang luar biasa. Aku tidak tahu siapa yang berbicara padaku, atau apa yang sedang terjadi. Tapi aku tahu satu hal: aku tidak bisa mempercayai wanita misterius itu. Dia adalah bahaya yang nyata.
Dengan sisa kekuatan yang kumiliki, aku mendorongnya menjauh. Kemudian, aku berbalik dan berlari. Aku tidak tahu ke mana aku harus pergi, atau apa yang akan terjadi. Tapi aku tahu bahwa aku harus melarikan diri. Aku harus menyelamatkan diriku sendiri.
Saat aku berlari, aku mendengar tawa wanita misterius itu di belakangku. Tawa yang membuatku merinding. Aku tahu bahwa dia akan mengejarku. Dan aku tahu bahwa ini baru permulaan.
Aku berlari secepat yang aku bisa, tanpa menoleh ke belakang. Aku harus menemukan jalan keluar dari mimpi buruk ini. Aku harus menyelamatkan Raden. Dan aku harus mengungkap kebenaran, sebelum semuanya terlambat. Di depanku, aku melihat cahaya samar-samar. Aku berlari menuju cahaya itu, berharap itu adalah jalan keluar. Tapi ketika aku semakin dekat, aku menyadari bahwa itu bukan cahaya biasa. Itu adalah… api. Api yang berkobar hebat, menghalangi jalanku. Dan di tengah api itu, aku melihat sosok yang tidak asing lagi. Sosok itu… adalah ibuku.