Sentuhan Terlarang di Villa Anggrek
Chapter 9 — Bisikan di Balik Cermin
Jantungku berdebar kencang. Kunci itu terasa dingin di telapak tanganku. Aku menatap pelayan itu, mencoba membaca niatnya. Apakah ini jebakan lain? Atau benarkah ada seseorang di sini yang ingin membantuku?
"Siapa kamu? Mengapa kamu melakukan ini?" tanyaku, suaraku bergetar.
Pelayan itu menunduk, seolah takut didengar. "Tidak ada waktu untuk menjelaskan, Nona. Nyonya… dia tidak bisa dipercaya. Dia punya rencana untukmu yang tidak akan kamu sukai. Kunci ini akan membawamu ke jalan rahasia. Ikuti saja lorong itu, dan kamu akan menemukan jalan keluar dari tempat ini."
"Tapi Raden… aku harus menemukan Raden," kataku, teringat janjinya.
"Raden… dia aman, untuk saat ini. Tapi semakin lama kamu di sini, semakin besar bahaya yang mengancamnya. Pergi, Nona. Pergi sekarang!"
Aku menggenggam kunci itu erat-erat. Aku masih tidak yakin sepenuhnya, tapi aku tahu aku tidak punya banyak pilihan. Kepercayaan pada wanita misterius itu sudah lama hilang. Aku harus bertindak, dan pelayan ini mungkin satu-satunya kesempatanku.
"Terima kasih," bisikku. "Aku tidak akan melupakan ini."
Pelayan itu mengangguk cepat. "Semoga berhasil, Nona. Dan berhati-hatilah. Nyonya memiliki mata dan telinga di mana-mana."
Dia berbalik dan menghilang secepat dia datang. Aku berdiri terpaku beberapa saat, lalu menarik napas dalam-dalam. Aku harus pergi. Aku harus menemukan Raden dan mengungkap kebenaran di balik semua ini.
Aku berjalan ke pintu dan mengintip keluar. Lorong itu kosong. Aku memasukkan kunci ke dalam lubang kunci dan memutarnya. Pintu terbuka dengan bunyi klik pelan. Aku melangkah keluar dan menutup pintu di belakangku.
Lorong itu gelap dan sempit, berbeda jauh dari kamar mewah yang baru saja kutinggalkan. Dindingnya lembap dan berlumut, dan udara terasa pengap dan dingin. Aku merinding, tapi aku terus berjalan, mengikuti arah yang ditunjukkan pelayan itu.
Aku berjalan menyusuri lorong itu untuk waktu yang terasa lama. Aku melewati beberapa pintu tertutup, tapi aku tidak berani membukanya. Aku tidak tahu apa yang ada di baliknya, dan aku tidak ingin mengambil risiko.
Akhirnya, aku melihat secercah cahaya di ujung lorong. Aku mempercepat langkahku, berharap segera keluar dari tempat ini.
Ketika aku sampai di ujung lorong, aku menemukan sebuah pintu kayu besar yang tampak kokoh. Aku mencoba membukanya, tetapi pintu itu terkunci.
Aku panik. Apakah ini akhir dari pelarianku? Apakah pelayan itu menjebakku?
Aku memeriksa kunci di tanganku. Mungkin ini bukan kunci yang tepat. Mungkin pelayan itu memberiku kunci yang salah.
Aku mencoba memasukkan kunci itu ke dalam lubang kunci, tetapi tidak cocok. Aku mencoba memaksanya, tetapi sia-sia. Kunci itu tidak mau berputar.
Aku bersandar ke pintu, putus asa. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku terjebak.
Tiba-tiba, aku mendengar suara. Suara itu pelan dan berbisik, seolah berasal dari dalam kepalaku.
"Kuncinya bukan untuk pintu itu," bisik suara itu. "Kuncinya untuk membuka dirimu sendiri."
Aku tersentak kaget. Siapa yang berbicara? Dari mana suara itu berasal?
Aku melihat sekeliling, tetapi aku sendirian. Tidak ada seorang pun di sana.
"Siapa di sana?" tanyaku, suaraku bergetar.
"Aku ada di sini bersamamu, Larasati," bisik suara itu. "Aku selalu ada di sini."
Aku merinding. Aku merasa ada sesuatu yang aneh sedang terjadi. Aku tidak tahu apa itu, tapi aku tahu itu tidak baik.
"Apa maksudmu?" tanyaku.
"Kamu harus ingat, Larasati," bisik suara itu. "Kamu harus ingat siapa dirimu sebenarnya."
Tiba-tiba, aku merasakan sakit yang tajam di kepalaku. Aku memegangi kepalaku dengan kedua tanganku, mengerang kesakitan.
Aku melihat kilasan-kilasan gambar di benakku. Gambar-gambar itu cepat dan kacau, tapi aku bisa melihat sekilas tentang diriku di masa lalu. Aku melihat diriku sebagai seorang anak kecil, bermain di pantai. Aku melihat diriku sebagai seorang remaja, jatuh cinta untuk pertama kalinya. Aku melihat diriku sebagai seorang wanita muda, membuat kesalahan dan belajar darinya.
Dan kemudian, aku melihat gambar yang berbeda. Gambar itu gelap dan menakutkan. Aku melihat diriku berdiri di depan cermin, menatap bayanganku sendiri. Tapi bayangan itu bukan diriku. Bayangan itu adalah makhluk yang mengerikan, dengan mata merah menyala dan gigi tajam seperti pisau.
Makhluk itu tersenyum padaku, dan aku tahu bahwa itu adalah diriku yang sebenarnya. Atau setidaknya, bagian dari diriku yang telah lama aku kubur.
Sakit di kepalaku semakin parah. Aku jatuh berlutut, tidak tahan lagi.
"Ingatlah, Larasati," bisik suara itu. "Ingatlah siapa dirimu."
Dan kemudian, semuanya menjadi gelap.
***
Aku terbangun di lantai yang dingin. Kepalaku berdenyut-denyut, dan tubuhku terasa sakit semua.
Aku melihat sekeliling. Aku masih berada di lorong yang sama, di depan pintu kayu besar. Tapi ada sesuatu yang berbeda.
Aku merasa… berbeda.
Aku berdiri dan berjalan ke arah pintu. Aku menyentuh pintu itu dengan tanganku, dan aku merasakan kekuatan yang mengalir melalui diriku.
Aku tahu apa yang harus aku lakukan.
Aku mengangkat tanganku dan meletakkannya di pintu. Aku memejamkan mata dan berkonsentrasi. Aku membayangkan pintu itu terbuka, dan aku membayangkan diriku berjalan melewatinya.
Dan kemudian, dengan satu ledakan energi, pintu itu hancur berkeping-keping.
Aku berdiri di ambang pintu, menatap apa yang ada di balik itu. Dan apa yang kulihat membuatku membeku ketakutan. Di ujung lorong, berdiri sosok wanita misterius itu. Di belakangnya, berdiri Arya, dengan senyum licik di wajahnya. Tapi bukan itu yang membuatku membeku. Itu adalah orang yang berdiri di sampingnya. Orang itu… adalah Raden.