Sentuhan Terlarang di Villa Anggrek

Chapter 8 — Bayang Angsa di Cermin Retak

Udara di kamar Larasati terasa sesak, menyesakkan napasnya. Arya berdiri di sana, wajahnya merah padam karena amarah, matanya berkilat dingin menatap Larasati seolah ia adalah serangga yang akan segera ia injak. Kata-katanya yang menuduh surat itu menggantung di udara, masing-masing seperti belati yang diarahkan langsung ke jantungnya.

"Surat itu, Larasati. Di mana kau menyembunyikannya?" Suara Arya serak, dipenuhi ancaman yang tak terucapkan. Ia melangkah maju, tangannya terkepal erat di sisi tubuhnya. Setiap inci gerakannya memancarkan bahaya. Di belakangnya, Raden berdiri diam, bayangannya memanjang di lantai, otot-ototnya tegang, siap bergerak kapan saja.

Larasati mundur selangkah, tubuhnya gemetar. Ia tidak bisa percaya Arya akan bertindak begitu kasar di depannya, apalagi di kamar pribadinya. Pikirannya berputar, mencari jalan keluar, tetapi tidak ada. Surat yang Arya cari… itu adalah surat yang ia bakar beberapa hari lalu, bukti dari masa lalu yang seharusnya terkubur selamanya. Masa lalu yang menghubungkannya dengan Raden, masa lalu yang akan menghancurkan segalanya jika terungkap.

"Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan, Arya," bisiknya, suaranya bergetar. Ia berusaha mengendalikan napasnya, menolak untuk menunjukkan rasa takutnya yang merayap. Namun, pandangan Arya yang tajam menusuknya, seolah ia bisa membaca setiap pikiran yang tersembunyi di balik matanya yang memohon.

Raden melangkah maju, berdiri di antara Larasati dan Arya. "Tuan Arya, sebaiknya Anda keluar dari kamar Nona Larasati sekarang. Ini bukan tempat Anda." Suaranya tenang, namun tegas, mengisyaratkan peringatan.

Arya tertawa getir. Tawanya dingin dan tanpa humor. "Kau pikir kau bisa melindunginya, anjing? Kau tidak tahu apa yang kau hadapi." Matanya beralih ke Larasati, tatapan penuh kebencian. "Kau pikir aku tidak tahu tentang kalian berdua? Tentang surat-surat yang kalian saling kirim? Aku tahu semuanya. Dan aku akan memastikan kalian berdua membayar setiap kesalahan yang pernah kalian lakukan."

Ia mengulurkan tangan, meraih kerah baju Larasati. Larasati tersentak, matanya melebar ketakutan. Sebelum Arya sempat menariknya, Raden bertindak. Dalam gerakan secepat kilat, ia menarik Arya menjauh, mendorongnya ke belakang dengan kekuatan yang mengejutkan. Arya terhuyung mundur, terkejut oleh perlawanan Raden yang tak terduga.

"Jangan pernah menyentuhnya lagi," desis Raden, matanya menyala dengan amarah yang terpendam. Aura protektifnya menguar, membuat udara di ruangan itu terasa lebih panas.

Arya tersenyum sinis, membersihkan debu imajiner dari bajunya. "Ini belum selesai, Raden. Kau dan Larasati, kalian akan menyesali hari ini." Ia melirik Larasati sekali lagi, pandangannya penuh ancaman, lalu berbalik dan keluar dari kamar, membanting pintu di belakangnya. Bunyi benturan itu bergema di ruangan yang sunyi.

Larasati terisak pelan, tubuhnya lemas karena ketegangan yang baru saja ia alami. Raden segera berbalik, menatapnya dengan khawatir. Ia mendekat, ragu-ragu mengangkat tangannya untuk menyentuh pipinya.

"Larasati? Kau baik-baik saja?" tanyanya, suaranya lembut.

Larasati mengangguk, berusaha tersenyum. "Ya. Terima kasih, Raden. Kau… kau menyelamatkanku lagi."

Raden menggeleng. "Aku tidak akan pernah membiarkanmu terluka." Ia menarik Larasati ke dalam pelukannya, memeluknya erat. Larasati bersandar di dadanya, merasakan detak jantungnya yang kuat dan stabil. Untuk sesaat, ia merasa aman. Perasaan yang telah lama ia rindukan.

Namun, keheningan itu tidak berlangsung lama. Tiba-tiba, terdengar suara ketukan di pintu. Kali ini, bukan ketukan biasa, melainkan suara yang berat dan mendesak. Raden melepaskan pelukannya, tatapannya waspada.

"Siapa di sana?" panggil Raden.

Tidak ada jawaban. Hanya suara ketukan yang semakin keras. Kemudian, terdengar suara dari luar, suara yang membuat jantung Larasati berdebar kencang karena ketakutan yang baru.

"Nona Larasati? Ini aku, Mbok Darmi. Ada sesuatu yang perlu Anda lihat. Segera."

Raden dan Larasati saling berpandangan. Ada sesuatu yang aneh dalam nada suara Mbok Darmi, sesuatu yang terburu-buru dan gelisah. Raden membuka pintu kamar perlahan. Di lorong, Mbok Darmi berdiri dengan wajah pucat pasi, tangannya gemetar memegang sebuah amplop cokelat.

"Apa yang terjadi, Mbok?" tanya Raden.

Mbok Darmi menelan ludah, pandangannya tertuju pada Larasati. "Ini… ini baru saja datang. Untuk Nona Larasati. Kurir tanpa wajah. Dia hanya… menyerahkannya dan pergi." Mbok Darmi menyerahkan amplop itu pada Larasati. Amplop itu terasa berat di tangan Larasati, dan tidak ada nama pengirim.

Dengan tangan gemetar, Larasati membuka amplop itu. Di dalamnya, bukan surat, melainkan sebuah foto. Foto yang membuat darahnya serasa membeku. Foto itu adalah foto dirinya dan Raden, diambil dari kejauhan, saat mereka berciuman di taman belakang, beberapa hari yang lalu. Di bawah foto itu, tertulis sebuah kalimat dengan tinta merah darah:

"Kau tidak bisa lari dari takdirmu, Larasati. Dan aku tahu rahasia kalian."

Larasati menjatuhkan foto itu, terkesiap. Raden segera mengambilnya, matanya menyipit saat membaca tulisan itu. Kengerian merayap di wajahnya. Ancaman itu bukan hanya dari Arya. Ada orang lain yang mengawasi, seseorang yang tahu tentang mereka, seseorang yang siap menghancurkan mereka.

Di luar jendela kamar Larasati, di balik tirai gelap yang tertutup rapat, sesosok bayangan mengamati. Di tangannya, sebuah liontin angsa berkilauan samar di bawah cahaya redup. Senyum tipis tersungging di bibirnya, sebuah senyum yang penuh kemenangan dan kesenangan melihat penderitaan yang baru saja terungkap.