Sentuhan Terlarang di Villa Anggrek
Chapter 7 — Bisikan Angsa di Tengah Badai
Malam merayap pelan, membawa dingin yang menusuk hingga ke tulang, kontras dengan panas yang membakar di dalam dada Larasati. Pesan singkat itu—singkat, tanpa nama, namun sarat ancaman—tergeletak di telapak tangannya seperti bara api. ‘Jauhi dia. Atau rasakan akibatnya.’ Siapa ‘dia’? Raden? Ataukah Arya, yang kini entah bagaimana terasa lebih asing daripada jurang pemisah antara dirinya dan sopirnya?
Larasati menelan ludah, tenggorokannya terasa kering. Ia memandang ke luar jendela kamarnya, ke arah kerlip lampu di kejauhan yang tertelan kegelapan pantai. Villa Anggrek terasa seperti penjara; dinding-dindingnya menjulang, bukan untuk melindungi, tetapi untuk menahan. Bapaknya, yang dulu menjadi pelabuhan, kini menjadi tembok. Senyum Arya yang dulu memesona, kini terlihat seperti seringai predator.
Ia teringat konfrontasi Raden dengan wanita misterius itu. Apakah ancaman ini datang dari sana? Atau dari Arya, yang gerak-geriknya semakin membingungkan? Raden bilang wanita itu memiliki liontin yang sama, namun ia juga melihat kedekatan mereka di beberapa kesempatan. Apakah mereka bekerja sama? Dan jika ya, untuk apa? Untuk menghancurkan Larasati?
Sebuah ketukan pelan di pintu kamarnya membuyarkan lamunannya. Jantungnya berdebar kencang. Arya?
“Masuk,” panggilnya, suaranya bergetar halus.
Pintu terbuka perlahan, dan sosok yang muncul bukanlah Arya. Itu Raden. Wajahnya sedikit kusut, matanya memancarkan kekhawatiran yang tak tersembunyi.
“Nona Larasati?” sapanya lembut, matanya menyapu ruangan seolah mencari sesuatu. “Saya lihat lampu kamar Anda masih menyala. Ada masalah?”
Larasati ragu sejenak. Haruskah ia menceritakan ancaman yang baru saja ia terima? Tapi Raden sendiri adalah target potensial dari ancaman itu. Dan ia tak ingin membebani Raden lebih jauh.
“Tidak apa-apa, Raden. Hanya… sulit tidur,” jawabnya, mencoba tersenyum.
Raden melangkah lebih dekat, tatapannya tertuju pada tangan Larasati yang masih menggenggam ponselnya. Ada sesuatu di sana, sesuatu yang membuatnya berhenti.
“Nona, apa itu?” tanyanya, menunjuk ke ponsel Larasati. “Anda terlihat tidak tenang sejak tadi.”
Larasati menarik napas dalam-dalam. Ia tak bisa terus berbohong. Kepercayaan yang ia bangun dengan Raden, sekecil apa pun itu, terasa lebih berharga daripada kebohongan yang terus-menerus.
“Seseorang mengirim pesan ancaman,” ucapnya lirih. “Mereka meminta saya menjauhi… seseorang.”
Raden terdiam, ekspresinya berubah serius. Ia melirik ke luar jendela, lalu kembali menatap Larasati. “Siapa yang Anda maksud ‘seseorang’ itu, Nona?”
Pertanyaan itu menggantung di udara. Raden. Jelas itu Raden. Tapi ia tidak bisa mengatakannya. Bukan dengan nada curiga, tapi dengan nada yang terdengar seperti… kepedulian. Kepedulian yang terasa begitu terlarang dan menggoda.
“Saya… saya tidak yakin,” jawab Larasati, menghindari tatapan Raden. “Tapi… pesan ini membuat saya takut.”
Raden maju selangkah lagi, kini berdiri begitu dekat hingga Larasati bisa merasakan kehangatan tubuhnya. Aroma maskulin yang samar menyeruak, aroma yang menenangkan sekaligus membangkitkan sesuatu yang dalam di dirinya. Ia mengangkat tangannya, ragu-ragu, lalu dengan lembut menyentuh pipi Larasati.
“Siapapun yang mengirim pesan itu, mereka tidak akan bisa menyakiti Anda selama saya ada di sini,” katanya, suaranya rendah dan tegas. “Saya bersumpah akan melindungi Anda, Nona Larasati. Apapun yang terjadi.”
Sentuhan itu, janji itu, adalah hal yang paling ia butuhkan saat ini. Air mata menggenang di pelupuk mata Larasati. Ia mengangguk kecil, memejamkan mata, menikmati momen singkat perlindungan itu.
Namun, keheningan itu pecah oleh suara langkah kaki yang tergesa-gesa di lorong. Suara itu semakin mendekat. Arya.
Raden menarik tangannya dengan cepat, matanya waspada. Ia melirik ke arah pintu, lalu kembali ke Larasati.
“Anda harus kembali ke tempat aman, Nona,” bisiknya.
Pintu kamar Larasati terbuka dengan kasar. Arya berdiri di sana, wajahnya gelap, matanya menyala penuh amarah. Ia tidak melihat Raden, tatapannya terpaku pada Larasati.
“Larasati! Di mana kau sembunyikan surat itu?!” teriaknya, suaranya menggema di seluruh ruangan.
Larasati terkesiap. Surat? Surat apa yang Arya maksud?
Raden melangkah maju, berdiri di antara Larasati dan Arya, siap melindungi. “Anda tidak berhak masuk ke kamar Nona Larasati seperti ini, Tuan Arya,” katanya, suaranya dingin.
Arya mendengus, matanya kini beralih pada Raden. Senyum sinis terukir di bibirnya. “Oh, sopir kesayangan kita. Ternyata kau masih punya nyali. Tapi kau tidak tahu apa yang sedang kau hadapi.”
Arya kemudian menoleh kembali ke Larasati, sorot matanya berubah menjadi ancaman yang lebih mengerikan. “Kalau kau tidak memberikannya padaku sekarang, Larasati… maka semua orang akan tahu rahasia gelapmu. Dan rahasia pria yang kau cintai.”
Rahasia? Pria yang dicintai? Arya tahu? Apa yang Arya tahu? Larasati memandang Raden, lalu kembali ke Arya, rasa panik mulai menguasainya. Ia terperangkap di antara dua pria yang sama-sama berbahaya, dengan ancaman yang semakin nyata.
Di luar, suara gemuruh petir terdengar samar, seolah alam ikut meratapi nasibnya.
Sementara itu, di sudut gelap vila, jauh dari keributan itu, wanita misterius itu berdiri di balik pilar batu, mengamati seluruh kejadian dengan senyum tipis. Di tangannya, liontin angsa berkilauan redup di bawah cahaya bulan yang tertutup awan.