Sentuhan Terlarang di Villa Anggrek
Chapter 6 — Jejak Angsa di Pasir Basah
Debu masih mengepul dari tanah yang baru saja dihantam liontin emas itu. Raden membeku, matanya terpaku pada kilau logam dingin yang tergeletak di antara butiran pasir basah. Liontin itu. Liontin yang sama persis dengan milik Larasati. Tapi ini bukan milik Larasati. Ia tahu itu. Ia telah melihatnya di tangan wanita misterius itu, wanita yang sama yang kini berdiri di hadapannya, seringai tipis tersungging di bibirnya yang merah delima.
“Kau mengenalnya, bukan?” Suara wanita itu halus bagai sutra, namun dingin menusuk. “Sama indahnya dengan milik nona muda Anda.”
Raden tidak menjawab. Otaknya berputar, mencoba memahami bagaimana semua ini bisa terjadi. Wanita ini, Arya, Larasati… semua terhubung oleh liontin angsa yang sama. Ia teringat malam itu, di bawah rintik hujan yang mulai turun, saat ia tak sengaja melihat sekilas liontin di leher Larasati sebelum api melalap segalanya. Ia ingat bagaimana ia berjuang menerobos kobaran api untuk mengambilnya, menganggapnya sebagai satu-satunya peninggalan Larasati yang selamat.
Sekarang, di sini, di pantai yang sepi ini, ia melihat dua liontin angsa yang identik. Satu di tangan wanita ini, satu lagi tergeletak di pasir. Dan ia tahu, ini bukan kebetulan. Ini adalah jebakan. Atau lebih buruk lagi, sebuah pengakuan.
“Kau… siapa kau sebenarnya?” tanya Raden, suaranya serak. Ia mengepalkan tinjunya, merasakan otot-otot di lengannya menegang. Ia harus tetap tenang. Ia harus mencari tahu kebenarannya demi Larasati.
Wanita itu tertawa kecil, suara yang membuat bulu kuduk Raden berdiri. “Aku? Aku adalah bayangan yang telah lama kau abaikan, Raden. Aku adalah masa lalu yang akan segera menghantuimu.” Ia membungkuk, mengambil liontin itu dari pasir dengan gerakan anggun. “Dan ini… ini adalah kunci untuk membuka segalanya.”
Ia mengulurkan liontin itu pada Raden. Jari-jemari mereka bersentuhan sekilas. Dingin. Raden menarik tangannya dengan cepat, merasakan sengatan listrik yang aneh. Ia melihat mata wanita itu, mata yang dalam dan penuh rahasia, menangkap ekspresi kebingungan dan ketakutan di wajahnya.
“Apa yang kau inginkan?” desak Raden. “Kenapa kau melakukan ini pada Larasati?”
“Aku menginginkan apa yang menjadi hakku,” jawab wanita itu. “Dan Larasati… dia hanyalah pion dalam permainan ini.” Ia tersenyum lagi, kali ini lebih lebar, memperlihatkan deretan gigi putihnya yang sempurna. “Kau akan segera mengerti. Arya akan memastikannya.”
Dengan kata-kata terakhirnya, wanita itu berbalik dan berjalan menjauh, menyusuri pantai, siluetnya perlahan menghilang ditelan kabut pagi yang mulai menebal. Raden ditinggalkan sendirian, dengan liontin yang berkilauan di tangannya dan pertanyaan yang kian menggunung di benaknya. Siapa wanita ini? Bagaimana ia bisa memiliki liontin yang sama? Dan apa hubungannya dengan Arya?
Sementara itu, di dalam Villa Anggrek yang megah, Larasati terbangun oleh suara ketukan di pintu kamarnya. Ia mengerjap, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kesadarannya. Semalam ia tidur dengan gelisah, dihantui mimpi buruk tentang api dan bayangan Arya yang mengancam.
“Masuk,” ucapnya pelan.
Pintu terbuka, dan Bapak Widjaja masuk. Wajahnya terlihat lebih tua dari biasanya, garis-garis kekhawatiran tercetak jelas di dahinya. Ia membawa secangkir teh hangat di tangannya.
“Larasati, anakku,” sapanya lembut, namun ada nada ragu dalam suaranya. “Kau… kau baik-baik saja?”
Larasati duduk tegak di tempat tidurnya. “Aku baik-baik saja, Ayah. Kenapa bertanya?”
Bapak Widjaja meletakkan teh itu di meja nakas. Ia duduk di tepi ranjang, menatap putrinya dengan tatapan yang sulit diartikan. “Arya bilang… semalam kau sangat tertekan. Dia bilang kau hampir… menyakitimu sendiri.”
Jantung Larasati berdebar kencang. Arya. Tentu saja Arya. Pria itu tidak pernah berhenti memutarbalikkan fakta untuk keuntungannya. “Apa? Itu tidak benar, Ayah!” serunya, suaranya sedikit bergetar karena marah dan takut.
“Arya bilang kau sangat terpukul dengan kejadian tempo hari,” lanjut Bapak Widjaja, mengabaikan bantahan Larasati. “Dia khawatir kau akan melakukan hal bodoh. Dia menyuruhku untuk menjagamu lebih ketat.”
Larasati menatap ayahnya, mencari tanda-tanda keraguan di matanya. Namun, ayahnya tampak benar-benar percaya pada kata-kata Arya. Kebohongan Arya telah merasuk begitu dalam, meracuni hubungan mereka.
“Ayah, Arya berbohong!” Larasati mencoba lagi, suaranya memohon. “Dia yang menyalakan api itu! Dia mencoba menyakitiku dan Raden!”
Bapak Widjaja menggelengkan kepalanya perlahan. “Larasati, sudah cukup. Arya sudah menjelaskan semuanya. Kebakaran itu… kecelakaan. Dan Raden… dia memang anak buah yang tidak bisa dipercaya. Kau harusnya bersyukur Arya ada di sisimu untuk melindungimu.”
Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Larasati. Ia merasa dunianya runtuh. Ayahnya, orang yang paling ia cintai dan percayai, kini membelakangi dirinya, dibutakan oleh manipulasi Arya. Ia terperangkap. Terperangkap dalam pernikahan yang tidak diinginkannya, terperangkap dalam kebohongan yang semakin membesar, dan terperangkap dalam perasaannya pada Raden yang semakin sulit untuk disembunyikan.
Ia teringat tatapan mata Raden tadi pagi, saat sarapan bersama. Ada sesuatu yang baru di sana, sesuatu yang tegas dan bertekad. Raden pasti sudah menemukan sesuatu. Tapi apa? Dan apakah itu cukup untuk melawan Arya dan kebohongan yang menyelimuti mereka?
Larasati menunduk, menatap tangannya yang dingin. Ia merasakan liontin angsa miliknya, yang masih terpasang di lehernya, terasa berat. Sebuah simbol cinta yang seharusnya membahagiakan, kini terasa seperti beban yang mencekiknya. Ia teringat kata-kata wanita misterius itu kepada Raden. 'Kunci untuk membuka segalanya'. Kunci apa? Dan apa yang akan terbuka?
Tiba-tiba, terdengar suara mobil memasuki halaman villa. Suara deru mesin yang familier. Larasati mengangkat kepalanya, jantungnya berdebar tak karuan. Ia tahu suara itu. Itu suara mobil Arya.
Namun, kali ini, bukan Arya yang keluar dari mobil itu. Pintu mobil terbuka, dan seorang pria berjas rapi, dengan wajah dingin dan tatapan tajam, melangkah keluar. Ia bukan Arya. Tapi Larasati merasa pernah melihatnya sebelumnya, dalam mimpi buruknya.
Pria asing itu melirik sekilas ke arah villa, matanya berhenti pada jendela kamar Larasati. Sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya. Lalu, ia mengeluarkan ponselnya dan mengetik sesuatu. Beberapa detik kemudian, ponsel Larasati yang tergeletak di nakas bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.
Dengan tangan gemetar, Larasati membuka pesan itu. Isinya hanya tiga kata, namun cukup untuk membuat darahnya serasa membeku:
'Aku melihatmu.'