Sentuhan Terlarang di Villa Anggrek

Chapter 5 — Jejak Hangus di Bawah Langit Pesisir

Udara masih terasa panas, menyengat tenggorokan setiap kali Larasati menarik napas. Asap tipis membubung dari reruntuhan taman belakang Villa Anggrek, sebuah pengingat nyata akan kekejaman Arya yang baru saja terjadi. Tubuhnya masih bergetar, bukan hanya karena sisa-sisa ketakutan, tetapi juga karena kemarahan yang membuncah. Ia menatap tangan Arya, yang masih membekas jelaga hitam, lalu beralih pada senyum puas yang terukir di wajah tunangannya itu.

"Ayah pasti akan mengerti. Keadaan yang tidak menguntungkan, bukan?" Arya berkata dengan nada tenang, seolah-olah barusan mereka baru saja menikmati sore yang indah. Ia mengelus lengan Larasati, namun sentuhannya terasa seperti bara api di kulit.

"Tidak menguntungkan? Kau membakar taman kita, Arya! Dan kau menyalahkan kami?" Larasati menarik lengannya dengan kasar. Matanya berkilat marah.

Bapak Widjaja, yang mendengarkan percakapan itu dari beranda, menghela napas panjang. Wajahnya tampak lelah, namun sorot matanya menunjukkan keraguan yang mendalam terhadap penjelasan Arya. "Arya, aku tahu kau berusaha melindungi nama baik keluarga kita. Tapi api sebesar itu..." Ia terdiam, pandangannya tertuju pada tumpukan puing yang menghitam.

"Hanya kecelakaan kecil, Ayah," sela Arya cepat, senyumnya kembali mengembang. "Mungkin ada korsleting listrik di gudang tua. Raden dan Larasati mungkin terlalu ceroboh saat mencoba memadamkannya. Tapi syukurlah, tidak ada yang terluka parah. Hanya sedikit kerugian materi." Ia melirik Larasati dengan peringatan.

Larasati merasa mual. Kebohongan itu terasa begitu pekat di udara. Ia ingin berteriak, membongkar segalanya, namun ia tahu itu akan membahayakan Raden. Ia teringat tatapan mata Raden saat pria itu menyelamatkan liontinnya, sorot mata yang dipenuhi kekhawatiran dan perlindungan. Perasaan itu begitu kuat, begitu berbeda dari apapun yang pernah ia rasakan pada Arya.

Sementara itu, di balik pohon-pohon kelapa yang masih kokoh berdiri, jauh dari keramaian, Raden mengamati pemandangan itu dari kejauhan. Tangannya mengepal erat, liontin angsa yang diselipkannya di balik kemeja terasa dingin di kulitnya. Ia melihat Larasati berdiri di samping Arya, wajahnya pucat namun sorot matanya menyimpan api pemberontakan. Ia ingin berlari menghampirinya, menariknya pergi dari sana, tetapi ia tahu itu hanya akan memperburuk keadaan. Arya pasti akan menggunakan Larasati sebagai tameng.

Raden memejamkan mata sejenak. Ia harus menemukan cara. Cara untuk melindungi Larasati tanpa harus mengorbankan dirinya sendiri. Ia teringat percakapannya dengan Larasati beberapa hari lalu, tentang rencana Arya untuk mengambil alih sepenuhnya bisnis keluarganya. Dan ia teringat percakapannya dengan wanita misterius di tepi pantai, wanita yang memberinya informasi penting tentang kelemahan Arya, dengan imbalan sebuah janji.

Dia melihat wanita itu sekarang, berdiri di kejauhan di tepi pantai, siluetnya tampak samar di bawah sinar matahari sore yang mulai meredup. Wanita itu memegang sesuatu di tangannya, sesuatu yang berkilauan. Raden menajamkan pandangannya. Itu liontin angsa yang sama persis dengan milik Larasati. Jantungnya berdebar kencang. Bagaimana bisa wanita itu memiliki liontin yang sama? Dan mengapa ia memegangnya dengan cara yang seolah ia menguasainya?

Raden memutuskan. Ia tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Kebohongan Arya akan semakin mengikat Larasati. Ia harus bertindak, meskipun itu berarti ia harus menghadapi wanita misterius itu dan mengungkap masa lalu yang selama ini ia sembunyikan.

Ia berbalik, melangkah perlahan menjauhi villa, menuju pantai tempat wanita itu berdiri. Setiap langkah terasa berat, dipenuhi keraguan sekaligus tekad yang membara. Ia tahu, keputusannya malam ini akan menentukan nasibnya dan nasib Larasati.

Di beranda villa, Arya tersenyum licik melihat Larasati yang masih terdiam. Ia mendekat, berbisik di telinga Larasati, "Kau tahu, sayang, aku melakukan semua ini demi kita. Demi masa depan kita. Kau tidak akan mengkhianati aku, kan?" Bisikannya terdengar manis, namun ada nada ancaman yang dingin di baliknya. Larasati menatap Arya, matanya dipenuhi campuran rasa jijik dan ketakutan. Ia merasakan jantungnya berdegup lebih kencang, sebuah firasat buruk mulai merayapinya.

Di tepi pantai, wanita misterius itu mengangkat liontin angsa di tangannya. Cahaya matahari memantul dari permukaannya, menciptakan kilatan yang menyilaukan. Ia tersenyum dingin, sebuah senyum yang tidak mencapai matanya. Tiba-tiba, ia melihat sesosok pria mendekat dari kejauhan. Senyumnya semakin lebar. Ia memutar liontin itu di antara jari-jarinya, lalu sengaja menjatuhkannya ke pasir, tepat di hadapan pria yang mendekat itu.