Sentuhan Terlarang di Villa Anggrek

Chapter 4 — Asap dan Air Mata di Villa Anggrek

Udara dipenuhi bau hangus yang menyesakkan. Sisa-sisa api yang baru saja berhasil dipadamkan masih mengepulkan asap tipis dari puing-puing taman belakang Villa Anggrek. Larasati terbatuk, matanya perih oleh asap dan air mata yang tak henti mengalir. Ia berlutut, memegangi dadanya yang sesak. Di sampingnya, Raden terlihat tergopoh-gopoh, menyiramkan sisa air dari ember ke bara yang masih menyala. Pakaian mereka sedikit terbakar di beberapa bagian, dan kulit mereka memerah akibat panas yang luar biasa.

Arya berdiri di ambang pintu balkon lantai dua, tatapannya dingin menusuk, seolah api yang baru saja ia sebarkan tidak cukup untuk memuaskan amarahnya. Bibirnya tersenyum sinis melihat kekacauan yang ia ciptakan. "Lihat apa yang kau perbuat, Larasati? Gara-gara emosimu yang tak terkendali. Dan kau, Raden," pandangannya beralih pada Raden yang berdiri tegap, melindungi Larasati, "kau pikir kau bisa melindunginya dari apa? Dari dirimu sendiri?"

Raden tidak menjawab. Ia hanya melangkah maju, memosisikan dirinya di antara Larasati dan Arya. "Tuan Arya, ini salah paham. Api ini..."

"Salah paham?" potong Arya tertawa mengejek. "Kau mencium tunanganku, lalu kau pikir ini salah paham? Kau mengajari api untuk menari di rumahku? Ini bukan salah paham, ini pengkhianatan! Dan kalian berdua akan membayarnya."

Larasati memberanikan diri untuk mendongak. "Arya, hentikan! Ini semua salahku. Aku yang memulai. Raden tidak salah apa-apa. Lepaskan dia."

Arya memicingkan matanya. "Melepaskannya? Setelah apa yang dia lakukan? Tidak semudah itu. Dia harus bertanggung jawab. Dan kau juga, Larasati. Kau akan tetap menikah denganku. Ini tidak mengubah apa pun. Justru ini semakin memperjelas posisimu."

Perkataan Arya bagai belati yang menusuk jantung Larasati. Ia tahu Arya bukan orang yang bisa diremehkan. Ketakutannya kini bukan hanya pada Arya, tetapi juga pada apa yang akan terjadi pada Raden. Ia melihat tangan Raden terkepal erat di sisinya, urat-uratnya menonjol. Raden jelas menahan diri, namun Larasati bisa merasakan badai yang bergolak di dalam dirinya.

"Aku tidak akan membiarkanmu menyentuhnya lagi, Arya," ucap Raden dengan suara serak namun tegas. Ia menatap Arya tanpa gentar.

Arya terkejut sesaat, lalu seringai kejam kembali terukir di wajahnya. "Oh ya? Dan bagaimana caramu menghentikanku, sopir rendahan? Mengancamku? Kau punya apa? Kekuatanmu? Kekayaanmu? Atau mungkin keberanianmu yang baru tumbuh setelah bersembunyi di balik wanita lain?"

Larasati tidak tahan lagi. Ia menarik lengan Raden, mencoba meredakan ketegangan. "Raden, kumohon. Jangan terpancing. Kita pergi dari sini."

"Tidak, Larasati," tolak Raden lembut, namun tatapannya tetap pada Arya. "Dia tidak bisa terus melakukan ini. Dia harus belajar."

"Belajar apa?" tantang Arya. "Belajar bagaimana menghancurkan semua yang dia sentuh? Termasuk dirimu?"

Di tengah perdebulan sengit itu, sebuah suara memecah keheningan. "Tuan Arya? Apa yang terjadi di sini?"

Ayah Larasati, Bapak Widjaja, berdiri di ujung taman, menatap dengan mata terbelalak pada puing-puing yang masih berasap, dan putrinya yang berlumuran jelaga. Wajahnya pucat pasi.

Arya segera mengubah ekspresinya menjadi kepedulian yang dibuat-buat. "Bapak Widjaja. Syukurlah Anda baik-baik saja. Tadi ada sedikit kecelakaan. Api kecil yang entah bagaimana bisa membesar. Saya berusaha memadamkannya." Ia melirik ke arah Larasati dan Raden dengan tatapan menyalahkan.

Bapak Widjaja berjalan mendekat, matanya memindai sekeliling. "Kecelakaan? Di taman belakang? Larasati, kau tidak apa-apa?" Ia menatap putrinya dengan cemas.

"Ayah..." Larasati ingin menjelaskan, namun Arya mendahuluinya. "Dia sedikit syok, Pak. Tadi dia berlari ke arah api karena panik. Saya dan Raden berusaha menariknya kembali."

Raden menatap Arya tajam, merasakan kebohongan yang dilontarkan begitu saja. Namun, ia tidak punya bukti. Yang ia miliki hanyalah liontin angsa yang berhasil ia selamatkan, tersembunyi di saku celananya. Ia melirik sekilas pada Bapak Widjaja, lalu kembali pada Larasati. "Saya hanya melakukan tugas saya, Pak. Melindungi nona Larasati."

Bapak Widjaja menghela napas panjang. "Ya, ya. Yang penting kalian semua selamat. Tapi ini..." Ia menunjuk puing-puing yang masih mengepul. "Bagaimana ini bisa terjadi? Villa ini kan dibangun dengan pengaman kebakaran terbaik."

Arya tersenyum lagi. "Mungkin cuaca yang terlalu panas, Pak. Dan angin yang kencang." Ia berhenti sejenak, membiarkan keraguan menyelimuti Bapak Widjaja. "Saya rasa, kita semua perlu istirahat setelah kejadian ini. Larasati, kau harus segera membersihkan diri. Nanti malam ada tamu penting yang akan datang. Kita tidak ingin terlihat berantakan, bukan?"

Larasati menelan ludah. Tamu penting? Di tengah kekacauan ini? Ia menatap Arya, mencari penjelasan, namun hanya menemukan kilatan dingin di matanya. Ia tahu Arya pasti punya rencana lain. Rencana yang melibatkan dirinya, mungkin juga Raden.

Raden melangkah maju, membungkuk hormat pada Bapak Widjaja, namun matanya tertuju pada Larasati. "Nona Larasati, jika Anda perlu apa-apa, katakan saja pada saya." Ia mengatakannya dengan nada yang lebih dari sekadar sopan santun seorang bawahan kepada majikannya. Ada janji di sana.

Larasati mengangguk pelan, berusaha menyembunyikan getaran di tangannya. Ia melihat Arya mengikuti gerak-gerik Raden dengan tatapan penuh curiga. Kemanakah wanita misterius yang mengamati dari kejauhan? Apakah ia melihat segalanya? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di benak Larasati, bercampur dengan rasa takut dan keinginan yang membingungkan terhadap Raden.

Di tengah kebingungan itu, Larasati teringat sesuatu. Liontin angsa yang diselamatkan Raden. Ia belum melihatnya sejak api padam. Raden pasti menyembunyikannya. Mengapa?

Sementara itu, jauh di garis pantai, di balik bebatuan yang tersembunyi, wanita misterius itu menyesap cairan dari botol kecilnya. Matanya yang tajam tak lepas dari Villa Anggrek yang terbakar. Ia tersenyum tipis. "Semua berjalan sesuai rencana," bisiknya pada angin.

Kemudian, ia mengeluarkan sebuah ponsel tua dari balik jubahnya. Ia mengetikkan pesan singkat dengan jari-jarinya yang lentik. Sebuah nama muncul di layar: "Arya". Pesan itu dikirim. Tak lama kemudian, balasan singkat muncul: "Terima kasih. Pembayaran akan segera dilakukan."

Wanita itu tertawa pelan, suara tawanya tertelan oleh deburan ombak. Ia menyimpan ponselnya, lalu tatapannya kembali tertuju pada Villa Anggrek, seolah ia sedang menikmati pemandangan yang mengerikan itu. Di tangannya, tergeletak sebuah liontin perak dengan ukiran angsa yang sama persis dengan yang diselamatkan Raden. Ia memutarnya perlahan, kilatan cahaya memantul dari permukaannya.