Sentuhan Terlarang di Villa Anggrek
Chapter 3 — Asap di Taman Anggrek
Udara di taman belakang Villa Anggrek terasa menyesakkan, bukan hanya karena aroma melati yang mulai layu, tetapi juga karena beban pengkhianatan yang menggantung di antara mereka. Larasati berdiri kaku, jantungnya berdegup kencang seperti genderang perang di dadanya. Wajah Arya Adiwangsa memerah karena amarah, matanya memancarkan kilatan berbahaya yang selalu membuat bulu kuduknya meremang.
“Kau… kau berani sekali, Larasati,” desis Arya, suaranya serak dipenuhi kemarahan yang tertahan. Jemarinya yang memegang erat gagang payung taman mengepal begitu kuat hingga buku-bukunya memutih. Ia melangkah perlahan mendekat, bayangannya memanjang di atas rerumputan yang basah oleh embun pagi. “Dan kau, bajingan kecil ini…” Arya menoleh pada Raden, pandangannya merendahkan. “Kau pikir dengan menjadi sopir keparat ini, kau bisa menyentuh apa yang menjadi milikku?”
Raden melangkah maju, berdiri tepat di depan Larasati, melindungi tubuh gadis itu dengan tubuhnya sendiri. Wajahnya tenang, namun tatapan matanya setajam silet. “Nona Larasati tidak memiliki apa pun yang menjadi milikmu, Tuan Arya. Terutama bukan hatinya.”
“Mulut besar!” Arya tertawa sinis. “Kau tahu apa yang terjadi pada orang-orang yang menantangku, Raden? Mereka menghilang. Terlupakan.” Arya melirik Larasati dengan senyum picik. “Atau menjadi abu.”
Larasati memejamkan mata sejenak, mengingat peringatan ayahnya. Arya tidak pernah main-main dengan ancamannya. Kekejaman adalah sifat alaminya, sesuatu yang tersembunyi di balik fasadnya yang menawan di depan publik. Dan sekarang, amarah di matanya nyata, bukan sekadar sandiwara.
“Arya, hentikan,” Larasati memohon, mencoba meredakan ketegangan yang semakin memuncak. “Ini semua salahku. Raden hanya…”
“Dia hanya selingkuhanmu?” Arya menyela, seringai kejam terukir di bibirnya. “Dan kau, Larasati, kau akan membayar semua ini. Kau tahu konsekuensinya jika kau mempermalukanku.”
Arya tiba-tiba meraih lengan Larasati, mencengkeramnya begitu erat hingga gadis itu meringis kesakitan. Namun, sebelum Arya sempat melakukan hal lain, Raden dengan sigap menarik Larasati menjauh, membebaskan gadis itu dari cengkeraman Arya. Raden mendorong Larasati ke belakangnya lagi, menghadap Arya.
“Jangan pernah sentuh dia lagi,” ujar Raden, suaranya dingin dan mengancam. Ia tidak lagi terlihat seperti sopir sederhana, melainkan seorang pelindung yang siap bertarung.
Amarah Arya meluap. Ia melempar payung taman ke tanah dengan suara dentuman keras. Matanya tertuju pada sebuah benda di meja dekat mereka – sebuah tempat minyak tanah yang biasanya digunakan untuk lampu taman. Dengan gerakan cepat, Arya meraihnya. Larasati terkesiap. Di dekat tempat minyak tanah itu, tergeletak sebatang korek api.
“Kalian pikir kalian bisa bermain api denganku?” Arya tertawa histeris. “Lihat saja!”
Arya melemparkan minyak tanah ke arah Raden dan Larasati. Cairan lengket itu membasahi pakaian mereka dan tanah di sekitar kaki mereka. Larasati menjerit. Aroma khas minyak tanah menyeruak tajam, bercampur dengan bau melati yang memuakkan.
Arya mengambil korek api, menyalakannya. Api kecil berkedip-kedip di ujungnya, memantulkan kilatan mengerikan di matanya. Ia mengangkat korek api itu, hendak melemparkannya ke genangan minyak tanah.
“Tidak!” Larasati berteriak, melangkah maju tanpa memikirkan keselamatannya sendiri. Ia mencoba merebut korek api dari tangan Arya, namun Arya terlalu cepat. Dengan seringai licik, Arya melemparkan korek api yang menyala itu ke arah tumpahan minyak tanah.
Api seketika menjalar, melahap rumput kering dan menyambar pakaian Raden dan Larasati. Jeritan Larasati tertahan di tenggorokannya. Ia merasakan panas yang luar biasa menyengat kulitnya. Raden segera menarik Larasati menjauh dari kobaran api, namun api itu sudah menyebar lebih cepat dari yang mereka duga, meliuk-liuk menuju bangunan villa yang terbuat dari kayu.
“Api…” Larasati terbatuk, asap mulai mengepul ke udara, menutupi langit yang tadinya biru cerah. Ia melihat bangunan villa, tempat ia dibesarkan, mulai dilalap api. Panik menjalari dirinya, namun rasa takut akan Arya lebih besar.
Arya hanya berdiri di sana, menyaksikan dengan puas saat api menjilat-jilat ke arah villa. Wajahnya diterangi oleh cahaya oranye yang mengerikan. “Sekarang kalian tahu rasanya kehilangan segalanya,” katanya dingin, sebelum berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan Larasati dan Raden di tengah kobaran api yang semakin membesar.
Dalam keputusasaan, Raden menarik Larasati ke arah yang menjauhi api, menuju pantai. Ombak berdebur di kejauhan, namun suaranya kini tenggelam oleh derak api yang melahap segalanya. Larasati menoleh ke belakang, melihat bagian dari taman dan pilar depan villa mulai terbakar. Asap hitam membubung tinggi, menciptakan tirai gelap yang menutupi matahari terbenam.
Tiba-tiba, Larasati merasakan sesuatu yang dingin menyentuh pergelangan tangannya. Ia menoleh dan melihat Raden, tangannya yang sedikit terbakar memegang erat pergelangan tangannya. Di tangannya, Raden memegang sesuatu yang berkilauan. Itu adalah liontin berbentuk angsa perak, hadiah dari ayahnya yang ia pikir telah hilang terbakar di dalam kamarnya. Bagaimana Raden bisa memilikinya? Ia menatap Raden, kebingungan dan rasa bersalah bercampur aduk dalam benaknya. Saat itulah ia melihat tatapan Raden padanya, tatapan yang penuh dengan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kekhawatiran. Sesuatu yang terlarang, yang kini terancam oleh api yang mereka ciptakan.
“Raden…” bisik Larasati, namanya terucap seperti doa sekaligus kutukan. Di kejauhan, di atas tebing yang menghadap ke pantai, siluet seorang wanita berdiri tegak, matanya terpaku pada kobaran api yang membesar di Villa Anggrek.