Sentuhan Terlarang di Villa Anggrek
Chapter 2 — Asap Kebencian, Janji Terbakar
Udara terasa dingin menusuk tulang, berbeda dari kehangatan yang baru saja menyatukan Larasati dan Raden di bawah keremangan senja. Ciuman itu, yang seharusnya menjadi puncak kerinduan yang terpendam, kini terasa seperti bara api yang menyambar di tengah badai. Arya berdiri di ambang pintu taman, siluetnya yang tegap terbingkai oleh cahaya lampu yang berkedip-kedip dari dalam rumah. Wajahnya tak terbaca, tetapi matanya... matanya berkilat dengan sesuatu yang Larasati kenal sebagai kemarahan yang membeku.
Raden segera menarik diri, tangannya terulur untuk melindungi Larasati di belakang punggungnya. Gerakannya cepat, naluriah, seolah ia siap menghadapi apa pun yang akan dilemparkan Arya padanya. Larasati sendiri merasakan jantungnya berdebar liar, bukan hanya karena rasa bersalah atau ketakutan akan Arya, tetapi juga karena gelombang emosi yang belum terselesaikan dari ciuman itu.
"Arya..." suara Larasati tercekat, lemah. Ia ingin menjelaskan, ingin memohon pengertian, tetapi kata-kata itu tersangkut di tenggorokannya. Apa yang bisa ia katakan? Bahwa perasaan yang ia coba tekan selama ini akhirnya meledak? Bahwa di hadapan Arya, ia justru semakin merindukan sentuhan Raden?
Arya tidak menjawab. Ia hanya melangkah maju, perlahan, seperti predator yang mengintai mangsanya. Setiap langkahnya di atas kerikil taman terdengar seperti dentuman genderang kematian. Ia berhenti tepat di depan mereka, tatapannya tertuju pada Raden, seolah Larasati tidak ada di sana.
"Kau," desis Arya, suaranya rendah dan berbahaya, "berani sekali."
Raden menegakkan tubuhnya, dadanya membusung. "Dia bukan milikmu untuk diatur, Tuan Arya." Kalimat itu keluar begitu saja, sebuah pernyataan yang mengejutkan bahkan bagi dirinya sendiri. Ia tahu risikonya, tahu bahwa ia sedang menantang seluruh kekuatan Arya Adiwangsa. Namun, melihat Larasati berdiri di sana, begitu rapuh di bawah tatapan tajam Arya, membuatnya tidak bisa tinggal diam.
Senyum tipis, dingin, tersungging di bibir Arya. "Bukan milikku? Dia tunanganku. Pewaris Widjaja. Dan kau hanya... sopir."
Kata 'sopir' diucapkan dengan nada menghina yang menusuk. Larasati merasa perutnya bergejolak. Ia melihat bagaimana Raden mengepalkan tangannya, buku-buku jarinya memutih. Ia tahu Raden lebih dari sekadar sopir, ia merasakan itu. Tetapi bagaimana ia bisa membuktikan itu pada Arya yang dibutakan oleh keserakahan dan rasa memiliki?
"Perasaan tidak mengenal status," balas Raden, suaranya tetap tenang namun penuh keteguhan. "Dan kau tidak pernah benar-benar mencintainya."
"Cukup!" Arya berteriak, suaranya pecah karena amarah yang tak tertahankan. Ia melangkah maju, tangannya terulur ke arah Raden, seolah ingin mencengkeram kerah bajunya. Namun, sebelum tangannya sempat menyentuh, Larasati melangkah maju, berdiri di antara mereka.
"Cukup, Arya!" Larasati berseru, suaranya lebih kuat dari yang ia duga. "Ini salah. Kita tidak seharusnya berada di sini, seperti ini." Ia menoleh pada Raden, tatapannya penuh permohonan. "Raden, kumohon, pergilah." Ia tahu ini adalah satu-satunya cara untuk meredakan situasi, setidaknya untuk saat ini.
Raden menatap Larasati, matanya memancarkan campuran kesedihan dan pengertian. Ia melihat pertempuran di dalam diri Larasati, antara keinginan untuk bersamanya dan kewajiban yang mengikatnya. Dengan anggukan pelan, ia berbalik dan berjalan menjauh, menghilang ke dalam kegelapan malam, meninggalkan Larasati berhadapan sendirian dengan Arya.
Arya menatap kepergian Raden, kemudian kembali menatap Larasati. Amarah di matanya perlahan berganti dengan sesuatu yang lebih gelap, lebih mengancam. Ia mengulurkan tangannya, bukan untuk menyakiti, tetapi untuk menarik dagu Larasati agar menatapnya. Jari-jarinya dingin di kulit Larasati.
"Kau pikir kau bisa bermain api denganku, Larasati?" bisiknya, suaranya serak. "Kau pikir kau bisa memilih di antara kami?" Ia menarik Larasati lebih dekat. "Kau akan menyesal. Kau akan belajar bahwa kau tidak bisa lepas dariku." Matanya menatap lekat ke mata Larasati, mencari tanda ketakutan. Ia menemukannya, tetapi ia juga melihat kilatan lain di sana – tekad yang baru.
"Aku tidak akan pernah menjadi milikmu, Arya," balas Larasati lirih, namun tegas. Ia tidak berani berbohong, tetapi ia juga tidak akan tunduk.
Arya tertawa, tawa yang kering dan tanpa kehangatan. "Kita lihat saja nanti." Ia melepaskan Larasati dengan kasar. "Bersiaplah. Malam ini baru permulaan."
Ia berbalik dan masuk ke dalam rumah, meninggalkan Larasati sendirian di taman yang kini terasa dingin dan asing. Aroma bunga anggrek yang biasanya menenangkan kini bercampur dengan bau asap yang samar, mengingatkannya pada kobaran api yang baru saja padam, dan kobaran api lain yang baru saja menyala di dalam hatinya. Ia mendongak, menatap langit malam yang kelam. Sesuatu yang tidak terlihat, namun terasa, mengawasinya dari kejauhan. Sebuah bayangan bergerak di balik rerimbunan pohon di tepi tebing.
Di kejauhan, di antara ombak yang menghantam karang, sesosok wanita bergaun putih basah berdiri mematung, matanya tertuju pada Villa Anggrek yang remang-remang. Tangannya mengepal erat, merasakan getaran amarah yang memancar dari tanah itu. Ia tersenyum tipis. Permainan baru saja dimulai.