Debu dari Janji yang Hancur
Chapter 2 — Bayangan di Jendela Kaca
Hujan turun tanpa henti di Jakarta, memukul-mukul jendela apartemen Aurora dengan irama yang monoton. Udara terasa dingin menusuk, kontras dengan kehangatan tropis Bali yang baru saja ia tinggalkan. Di tangannya tergenggam sebuah amplop undangan yang sama, undangan pernikahan Raditya dan Isabella. Lima tahun. Lima tahun berlalu sejak malam yang merenggut segalanya di villa tepi pantai itu. Ibu Raditya memintanya datang, entah untuk apa. Ada rahasia yang harus diungkap, katanya. Rahasia yang membuat Aurora ragu, tapi juga tak bisa menolak.
Aurora melangkah keluar dari apartemennya, menyusuri koridor yang sunyi. Setiap langkah terasa berat, seperti menarik jangkar dari dasar laut. Ia memutuskan untuk mengunjungi villa itu sekali lagi. Tempat di mana janji suci mereka diputuskan oleh kesalahpahaman dan kepedihan yang tak terucap. Ia harus melihatnya lagi, merasakan kembali sisa-sisa kenangan sebelum Raditya benar-benar menjadi milik orang lain.
Udara di villa terasa pengap, sarat dengan aroma garam laut dan kesedihan yang tak pernah hilang. Perabotannya masih sama, hanya berdebu dan tertutup kain putih. Aurora berjalan perlahan ke ruang tengah, tempat ia terakhir kali melihat mata Raditya dipenuhi kebencian. Tiba-tiba, suara derit pintu membuatnya terlonjak. Ia berbalik, jantungnya berdebar kencang. Sosok yang berdiri di ambang pintu membuatnya membeku. Raditya.
Matanya yang dulu hangat kini dingin, menatap Aurora dengan campuran keterkejutan dan sesuatu yang lebih gelap. Di belakangnya, Isabella muncul, tersenyum tipis namun penuh kemenangan. Senyum itu, Aurora tahu, adalah senyum yang menyakitkan. Raditya melangkah maju, suaranya serak. "Aurora? Apa yang kau lakukan di sini?"
Sebelum Aurora sempat menjawab, Ibu Raditya muncul dari balik pintu samping, tatapannya tertuju pada Aurora. Ada sorot mata aneh di sana, bukan penyesalan, melainkan sesuatu yang lebih dingin. "Kau datang juga, Aurora. Bagus. Kau harus tahu segalanya sebelum terlambat."
Isabella melirik Ibu Raditya, lalu kembali menatap Aurora dengan tatapan menilai. Aurora merasa terperangkap, dihadapkan pada masa lalu dan masa kini yang saling bertabrakan di ruangan yang sama. Ia menatap Raditya, mencari secercah kehangatan yang dulu pernah ada, namun hanya menemukan kehampaan. "Aku di sini karena ibumu memintaku datang, Raditya. Dia bilang ada rahasia."
Raditya tertawa getir. "Rahasia? Rahasia apa lagi yang kau inginkan, Aurora? Kau sudah menghancurkan hidupku lima tahun lalu."
Kata-kata itu bagai belati menusuk jantung Aurora. Ia tidak menghancurkan apa pun. Ia adalah korban. Tapi bagaimana menjelaskan itu pada Raditya yang kini berdiri di samping wanita lain, dengan tatapan penuh tuduhan?
Di luar, hujan semakin deras. Tiba-tiba, sebuah mobil hitam melintas di depan villa, lampu depannya menyapu dinding kaca ruang tengah. Sekilas Aurora melihat siluet di kursi pengemudi. Sosok yang sama yang ia lihat di bandara. Sosok itu menatap langsung ke arahnya, tatapan yang terasa mengancam. Jantung Aurora berdetak semakin kencang. Siapa dia? Dan mengapa ia mengawasinya?