Debu dari Janji yang Hancur

Chapter 3 — Bayangan di Kaca Patri

Angin laut menerpa wajah Aurora, membawa aroma garam yang pekat dan kepedihan yang sama dalamnya. Villa itu berdiri kokoh, saksi bisu dari mimpi-mimpi yang hancur lima tahun lalu. Dindingnya yang dulu terasa hangat kini memancarkan dingin yang menusuk tulang. Ia melangkah masuk, setiap tapak kaki terasa berat, seolah menembus kabut waktu.

Di ruang tamu utama, lampu kristal masih menggantung anggun, namun cahayanya terasa redup, tertelan oleh bayangan yang memanjang. Di sana, di depan jendela kaca patri yang menggambarkan kisah cinta yang tak pernah terjadi, berdiri Raditya. Punggungnya menghadap Aurora, siluetnya tegas di bawah cahaya senja yang meredup.

“Sudah kuduga kau akan datang,” suara Raditya terdengar serak, tanpa menoleh. Nada suaranya dingin, tanpa sedikit pun kehangatan yang dulu pernah Aurora kenali.

Aurora menelan ludah, tenggorokannya tercekat. “Ibumu… dia memintaku datang.”

Raditya akhirnya berbalik. Mata hitamnya yang dulu penuh cinta kini menatap Aurora dengan sorot tajam yang menyakitkan. Di sampingnya, Isabella berdiri dengan anggun, mengenakan gaun berwarna merah marun yang kontras dengan kulit pucatnya. Senyum tipis menghiasi bibirnya, senyum kemenangan yang membuat perut Aurora mual.

“Meminta? Atau memaksa?” Isabella menyela, suaranya lembut namun mengandung racun. Ia melangkah mendekati Raditya, menyandarkan kepalanya di bahunya. “Dia tahu aku akan menikah dengan Raditya, tapi dia tetap saja mengganggumu, Aurora. Kasihan sekali kau.”

Aurora mengabaikan Isabella, fokus pada Raditya. “Radit, aku bisa menjelaskan… tentang malam itu.”

Raditya tertawa sinis. “Menjelaskan? Apa yang bisa dijelaskan? Kau meninggalkanku, Aurora. Kau menghancurkan semuanya tanpa sepatah kata pun. Apa yang ingin kau jelaskan? Bahwa kau menemukan yang lebih baik?” Ia melirik Isabella sekilas, lalu kembali menatap Aurora dengan amarah yang membara. “Kau melihatnya sekarang? Dia yang lebih baik. Dia tidak pergi seperti kau.”

“Aku tidak pergi begitu saja!” Aurora membentak, suaranya bergetar. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. “Ada alasan… alasan yang sangat besar. Dan ibumu tahu itu. Dia yang menyuruhku pergi.”

Isabella tertawa kecil. “Lucu sekali. Ibu mertuaku yang terhormat? Dia selalu menyayangimu, Aurora. Dia bahkan menyuruhku untuk belajar darimu.” Ia kemudian berbisik di telinga Raditya, namun cukup keras untuk didengar Aurora, “Dia bilang kau seperti boneka porselen. Cantik, tapi mudah pecah.”

Raditya menatap Aurora, keraguan mulai terlihat di matanya, sebuah celah kecil dalam dinding kemarahan yang ia bangun. “Apa maksudmu?” tanyanya, nadanya sedikit melembut.

Sebelum Aurora sempat menjawab, sebuah suara berat dari pintu belakang villa terdengar. “Aurora… apa kabar?”

Aurora terkesiap. Sosok itu, bayangan yang mengawasinya di bandara, kini berdiri di sana, melangkah masuk dari kegelapan. Di tangannya tergenggam sebuah kotak kayu tua. Matanya tertuju pada Aurora, lalu beralih ke Raditya dan Isabella.

“Sepertinya aku datang di saat yang kurang tepat,” ujar sosok itu dengan senyum misterius. Ia melangkah mendekat, memperlihatkan wajahnya yang asing namun tatapannya familiar. “Atau justru di saat yang paling tepat. Aku punya sesuatu yang mungkin ingin kalian lihat, Aurora. Sesuatu yang berkaitan dengan malam itu… dan rahasia yang ibumu simpan.” Ia mengangkat kotak kayu itu, ujungnya sedikit terbuka, memperlihatkan secarik foto yang terlipat di dalamnya.