Debu dari Janji yang Hancur

Chapter 4 — Bayangan di Atas Lautan Kemarin

Udara di villa terasa berat, pekat oleh ketegangan yang menusuk. Sosok misterius itu berdiri di ambang pintu ruang tengah, tatapannya tertuju pada Aurora, lalu beralih ke Raditya yang mematung. Kotak kayu tua di tangannya seolah memancarkan aura misteri yang tak terpecahkan.

"Ini... ini bukan milikku," Aurora tergagap, matanya membelalak menatap kotak itu. Ia tak ingat pernah memiliki benda serupa. Memori lima tahun lalu terasa seperti kabut tebal yang enggan tersingkap.

Isabella mendengus sinis. "Oh, jadi sekarang kau mau bermain pura-pura tidak tahu, Aurora? Khas sekali. Semua barangmu selalu saja ada di tempat yang salah, atau di tangan orang yang salah. Sama seperti hatimu."

Raditya menatap Isabella dengan sorot mata dingin. "Cukup, Isabella. Jangan membuat keadaan lebih buruk." Ia kemudian berbalik menatap Aurora, ekspresinya antara marah dan bingung. "Aurora, apa yang sebenarnya terjadi malam itu? Ibu bilang..." Kalimatnya terputus, ia menelan ludah, seolah perkataan ibunya sendiri terasa asing di lidahnya.

"Aku tidak akan diam saja," suara Aurora tegas, mengabaikan sindiran Isabella. Ia melangkah maju, tangannya terulur hendak mengambil kotak itu. "Apa pun isinya, aku berhak tahu. Apa pun yang kau sembunyikan dariku, Radit. Aku sudah muak dengan kebohongan." Ia menatap langsung ke mata Raditya, mencari kejujuran yang dulu pernah ia percayai sepenuhnya.

Sosok misterius itu meletakkan kotak itu perlahan di atas meja kopi. "Buka saja," desisnya, suaranya rendah namun menusuk telinga. "Mungkin ini akan menyegarkan ingatanmu. Atau mungkin, akan menghancurkan segalanya." Ia tersenyum tipis, senyum yang tidak mencapai matanya.

Raditya meraih kotak itu sebelum Aurora sempat menyentuhnya. Jari-jarinya gemetar saat membuka pengaitnya yang berkarat. Isabella berdiri di sampingnya, napasnya tertahan, matanya terpaku pada isi kotak. Aurora menahan napas, jantungnya berdebar kencang, siap menghadapi kenyataan apa pun yang tersembunyi di balik kayu tua itu.

Saat tutup kotak terangkat, bukan hanya foto-foto yang tersaji. Di antara tumpukan gambar yang tampak familiar, sebuah kalung perak mungil berkilauan tertimpa cahaya lampu. Aurora mengenali liontinnya—bentuk bulan sabit yang dulu ia berikan pada Raditya di malam ulang tahun mereka yang ketiga. Namun, di samping kalung itu, tergeletak sebuah cincin pertunangan yang berbeda. Cincin yang tidak pernah ia lihat sebelumnya, dengan batu safir biru gelap yang berkilauan menusuk pandangan.

Seketika, keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan. Mata Raditya dan Aurora bertemu, dipenuhi pertanyaan dan rasa sakit yang baru. Isabella tertawa kecil, tawa yang terdengar getir dan dingin. "Oh, Aurora... kau benar-benar tidak tahu apa-apa, ya? Sungguh menyedihkan."