Debu dari Janji yang Hancur

Chapter 5 — Cincin Itu Bukan Milikmu

Udara di villa tepi pantai terasa dingin, menusuk bahkan hingga ke tulang Aurora. Tatapan matanya tertuju pada kotak kayu yang terbuka di atas meja marmer. Di dalamnya, tergeletak kalung bulan sabit miliknya yang familier, berdampingan dengan sebuah cincin emas putih yang berkilauan di bawah cahaya lampu gantung. Cincin itu terasa asing, namun entah mengapa memancarkan aura kehancuran yang sama seperti malam itu.

"Cincin itu bukan milikmu, Aurora," suara Isabella memecah keheningan, nadanya penuh kemenangan yang dingin. Ia melangkah mendekat, jemarinya yang lentik menyentuh cincin itu dengan posesif. "Ini adalah bukti dari cinta sejati, cinta yang tidak pernah kamu pahami."

Aurora merasakan jantungnya berdegup kencang. Matanya beralih pada Raditya. Wajahnya pucat pasi, matanya terpaku pada cincin itu dengan ekspresi yang sulit dibaca—campuran antara keterkejutan, kesedihan, dan sebuah kepedihan yang dalam. Ia tidak mengatakan apa-apa, seolah kata-katanya tertahan di tenggorokan.

"Lihat ini," Sosok Misterius itu kembali berbicara, suaranya serak namun tegas. Ia mengeluarkan sebuah foto dari dalam kotak. Foto itu buram, diambil dari kejauhan, namun Aurora bisa mengenali siluet dirinya dan Raditya di bawah cahaya rembulan, di tepi pantai yang sama, beberapa hari sebelum malam tragedi itu. Namun, ada sesuatu yang mengganjal di jari manis Raditya dalam foto itu. Sebuah cincin. Cincin yang sama persis dengan yang ada di dalam kotak.

"Raditya, kamu ingat malam itu? Malam sebelum kamu pergi ke luar kota? Malam di mana kamu berjanji akan selalu bersamaku, malam di mana kita berencana membangun masa depan?" tanya Aurora, suaranya bergetar. Ia menatap langsung ke mata Raditya, mencari kebenaran yang tersembunyi di sana.

Raditya tersentak, seolah baru saja terbangun dari mimpi buruk yang panjang. Ia memandang Aurora, lalu ke arah Isabella, dan terakhir pada foto di tangan Sosok Misterius itu. Kebingungan tergambar jelas di wajahnya.

"Aku... aku tidak mengerti," gumam Raditya, suaranya parau. "Cincin itu... itu bukan milikku. Aku belum pernah melihatnya sebelumnya."

Isabella tertawa sinis. "Oh, Raditya. Kamu benar-benar sudah lupa? Atau kamu hanya berpura-pura? Aurora, kamu tidak tahu apa-apa tentang betapa dalamnya pengkhianatan yang terjadi malam itu. Betapa dalamnya luka yang kamu torehkan."

Aurora merasa dunianya runtuh. Pengkhianatan? Luka? Kata-kata Isabella menusuk lebih dalam daripada belati. Ia memejamkan mata sejenak, mencoba mencerna semua informasi yang menghantamnya. Kalung miliknya, cincin asing, foto buram, dan tuduhan Isabella yang pedih. Ia membuka matanya kembali, menatap tajam Sosok Misterius itu.

"Siapa Anda? Apa yang sebenarnya terjadi malam itu? Katakan!" tuntut Aurora, suaranya kini dipenuhi amarah yang membara.

Sosok Misterius itu tersenyum tipis, senyum yang lebih mirip seringai. Ia menatap Aurora dengan sorot mata yang penuh belas kasihan yang aneh. "Aurora, kamu ingin tahu kebenarannya? Kebenaran yang selama ini ditutupi oleh semua orang?" Ia berhenti sejenak, membiarkan ketegangan menggantung di udara. "Baiklah. Tapi bersiaplah. Karena kebenaran ini akan menghancurkanmu lebih dari apapun yang pernah kamu bayangkan."

Raditya terdiam, menatap Aurora dengan campuran rasa bersalah dan penyesalan yang mendalam. Isabella berdiri di sampingnya, tatapannya penuh kebencian pada Aurora. Sosok Misterius itu kemudian mengulurkan tangannya, mengambil sebuah amplop dari sakunya.

"Ini adalah bukti terakhir," katanya, menyerahkan amplop itu kepada Aurora. "Bukti yang akan membuatmu mengerti mengapa Raditya tidak pernah bisa memaafkanmu."

Dengan tangan gemetar, Aurora membuka amplop itu. Di dalamnya, terdapat sebuah surat tulisan tangan yang sudah sedikit lusuh, dan di bawahnya, sebuah foto. Foto itu jelas, diambil dengan kamera berkualitas tinggi. Foto Aurora dan seorang pria asing, tertawa bersama di sebuah kafe, terlihat sangat mesra. Di jari manis Aurora, sebuah cincin yang sama persis dengan yang ada di dalam kotak. Dan di bawah foto itu, tertulis sebuah tanggal: tiga hari sebelum malam tragedi yang merenggut segalanya.

Aurora terkesiap, napasnya tercekat. Matanya membelalak tak percaya. Ia menatap foto itu, lalu ke arah Raditya yang masih membeku di tempatnya, dan terakhir ke arah Isabella yang menyunggingkan senyum puas. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, namun bukan air mata kesedihan, melainkan air mata kemarahan yang membuncah.