Malam Sebelum Ikrar Darah

Chapter 1 — Malam Sebelum Ikrar Darah

Kilatan cahaya dari helikopter yang terbang rendah memantulkan sorot lampu ke gaun sutra merah delima yang kukenakan. Suara rotornya memekakkan telinga, tetapi di tengah kebisingan itu, aku bisa mendengar detak jantungku sendiri yang berdebar kencang, seperti genderang perang.

Aku, Aurora Damayanti, pewaris tunggal Keluarga Damayanti, berdiri di helipad pribadi di atas Menara Damayanti, jantung dari kerajaan bisnis keluarga kami. Malam ini, aku akan bertemu dengan calon suamiku, Adrian Suryawinata, putra mahkota Keluarga Suryawinata, musuh bebuyutan kami selama beberapa generasi.

Mama sudah mengingatkanku, "Aurora, ini bukan soal cinta. Ini soal kelangsungan hidup keluarga. Pernikahan ini akan mengakhiri perang bisnis kita yang sudah berlangsung lama. Ingat itu."

Dan aku tahu. Aku tahu betul. Sejak kecil, aku dididik untuk satu tujuan: melindungi Keluarga Damayanti, apa pun biayanya. Bahkan jika itu berarti mengorbankan kebahagiaanku sendiri.

Helikopter itu mendarat, debu dan kerikil beterbangan di sekelilingku. Pintu terbuka, dan seorang pria keluar. Adrian Suryawinata. Bahkan dari jarak jauh, auranya begitu kuat hingga membuatku terkesiap. Tinggi, tegap, dengan rambut hitam legam yang disisir rapi ke belakang. Wajahnya tegas, tatapannya tajam, dingin, dan menusuk.

Dia berjalan mendekatiku, langkahnya mantap dan penuh percaya diri. Aku mencoba untuk tidak bergeming, untuk tetap tenang, tetapi jantungku terus berdebar semakin kencang.

"Aurora Damayanti," sapanya, suaranya dalam dan berat. "Senang bertemu denganmu akhirnya."

Aku mengangguk, mencoba menyembunyikan kegugupanku. "Adrian Suryawinata. Selamat datang di Menara Damayanti."

Dia tersenyum sinis. "Menara Damayanti? Atau lebih tepatnya, penjara baruku?"

Aku menelan ludah. "Itu tergantung bagaimana kau melihatnya."

"Aku selalu melihatnya sebagai medan perang," jawabnya, tatapannya menelusuri wajahku. "Dan kau, Aurora, adalah tawanan perangnya."

Aku mengepalkan tanganku. Kata-katanya seperti tamparan di wajahku. Aku tahu pernikahan ini tidak akan mudah, tapi aku tidak menyangka dia akan begitu blak-blakan dan kejam sejak awal.

"Kita berdua adalah tawanan, Adrian," balasku, mencoba untuk tidak menunjukkan rasa sakitku. "Kita berdua dipaksa untuk melakukan ini."

"Benarkah?" Dia mendekatiku, jarak kami semakin dekat hingga aku bisa merasakan aroma parfumnya yang mahal dan maskulin. "Apa kau yakin kau tidak menginginkan ini, Aurora? Apa kau yakin kau tidak tertarik padaku?"

Aku terkejut dengan pertanyaannya. Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku tidak pernah bertemu dengannya sebelumnya. Aku tidak tahu apa pun tentang dia, kecuali bahwa dia adalah musuhku.

"Aku tidak tahu," akhirnya aku berkata, suaraku bergetar.

Dia tersenyum lagi, senyum yang kali ini terlihat lebih tulus. "Itulah yang kupikirkan," bisiknya, lalu meraih tanganku dan mencium punggung tanganku. "Mari kita lihat apa yang akan terjadi, Aurora. Mari kita lihat siapa yang akan menang dalam perang ini."

Malam itu, setelah Adrian dibawa ke kamar tamu yang telah disiapkan untuknya, aku duduk di balkon kamarku, menatap lampu-lampu kota yang berkilauan di bawah sana. Aku merasa hancur dan takut. Aku tidak tahu apa yang menantiku, tapi aku tahu bahwa hidupku tidak akan pernah sama lagi.

"Aurora?" Mama masuk ke kamarku, wajahnya terlihat lelah dan khawatir.

Aku menoleh padanya. "Ma? Apa yang Mama lakukan di sini? Ini sudah larut."

"Aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja," jawabnya, lalu duduk di sampingku. "Bagaimana pertemuannya dengan Adrian?"

Aku menghela napas. "Dia... dia seperti yang kubayangkan. Dingin, angkuh, dan kejam."

Mama meraih tanganku dan menggenggamnya erat. "Aku tahu ini sulit untukmu, Aurora. Tapi kau harus kuat. Kau harus melakukan ini untuk keluarga kita."

"Aku tahu, Ma," kataku, air mata mulai menggenang di mataku. "Tapi aku tidak tahu apakah aku bisa."

Mama memelukku erat. "Kau bisa, Aurora. Kau putriku. Kau kuat. Aku percaya padamu."

Aku membalas pelukannya, mencoba mencari kekuatan darinya. Tapi di dalam hatiku, aku merasa semakin takut dan sendirian.

Keesokan harinya, kami mengadakan pertemuan resmi dengan keluarga Suryawinata di ruang konferensi utama Menara Damayanti. Ruangan itu dipenuhi dengan orang-orang penting dari kedua keluarga, semua mengenakan pakaian formal dan memasang wajah serius.

Adrian duduk di samping ayahnya, Tuan Suryawinata, seorang pria tua yang berwibawa dengan tatapan mata yang tajam dan menusuk. Dia menatapku dengan tatapan yang tidak bisa kubaca.

Aku duduk di samping Mama, mencoba untuk tidak terlihat gugup. Di seberangku, duduk seorang wanita muda yang cantik dan anggun. Mama berbisik kepadaku, "Itu adalah Nadia Suryawinata, adik perempuan Adrian."

Pertemuan itu berlangsung tegang dan formal. Kedua belah pihak membahas detail pernikahan, perjanjian bisnis, dan segala sesuatu yang terkait dengan persatuan kedua keluarga. Aku mencoba untuk fokus, tetapi pikiranku terus melayang.

Saat makan siang, aku duduk di samping Nadia. Dia tersenyum ramah padaku. "Selamat, Aurora," katanya. "Aku senang kau akan menjadi bagian dari keluarga kami."

Aku tersenyum kembali padanya. "Terima kasih, Nadia. Aku juga senang bisa mengenalmu."

Kami mulai mengobrol tentang hal-hal ringan, seperti hobi, makanan, dan film. Aku merasa sedikit lebih nyaman berada di dekatnya. Dia tampak seperti orang yang baik dan tulus.

"Jadi, apa pendapatmu tentang kakakku?" tanyanya tiba-tiba, senyumnya sedikit menggoda.

Aku tersedak makananku. "Adrian?" tanyaku, mencoba untuk tidak terlihat gugup. "Dia... dia menarik."

Nadia tertawa. "Menarik? Itu kata yang sopan untuk mengatakan dia menakutkan, bukan?"

Aku tertawa bersamanya. "Dia memang sedikit menakutkan."

"Dia sebenarnya orang yang baik," kata Nadia. "Hanya saja dia sangat tertutup dan protektif. Dia selalu merasa bertanggung jawab untuk melindungi keluarga kami."

"Aku mengerti," kataku. "Aku juga merasakan hal yang sama terhadap keluargaku."

"Aku harap kalian berdua bisa saling memahami dan menghormati," kata Nadia. "Aku yakin kalian bisa menjadi pasangan yang hebat."

Aku tersenyum pahit. Aku tidak yakin tentang itu. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Tapi aku tahu bahwa aku harus mencoba. Aku harus melakukan ini untuk keluargaku.

Setelah pertemuan itu selesai, Adrian mengajakku berjalan-jalan di taman Menara Damayanti.

"Jadi, apa pendapatmu tentang keluargaku?" tanyanya, tatapannya tertuju pada bunga-bunga yang bermekaran di sekeliling kami.

"Mereka... mereka kuat," jawabku. "Seperti keluargaku."

Dia mengangguk. "Kita berdua berasal dari keluarga yang kuat dan ambisius," katanya. "Itulah mengapa kita dipaksa untuk melakukan ini."

"Aku tahu," kataku. "Tapi itu tidak berarti kita harus saling membenci."

Dia menoleh padaku, tatapannya menajam. "Apa kau pikir aku membencimu, Aurora?"

Aku tidak tahu. Aku tidak tahu apa yang dia rasakan. Tapi aku tahu bahwa ada sesuatu yang lebih dari sekadar kebencian di matanya.

"Aku tidak tahu," kataku. "Apa kau membenciku, Adrian?"

Dia terdiam sejenak, lalu menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tahu," jawabnya, suaranya pelan. "Tapi aku tahu bahwa aku tertarik padamu."

Aku terkejut dengan pengakuannya. Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan.

Dia mendekatiku, jarak kami semakin dekat hingga aku bisa merasakan napasnya di wajahku. "Aku ingin mengenalmu lebih baik, Aurora," bisiknya. "Aku ingin tahu apa yang ada di dalam hatimu."

Dia mengulurkan tangannya dan menyentuh pipiku. Sentuhannya lembut dan hangat. Aku terkejut dengan diriku sendiri, karena aku tidak menolaknya.

"Aku juga ingin mengenalmu lebih baik, Adrian," bisikku.

Dia tersenyum, lalu membungkuk dan menciumku. Ciumannya lembut dan penuh kehati-hatian. Aku membalas ciumannya, mencoba untuk melupakan semua masalah dan ketakutan yang ada di benakku.

Saat kami berciuman, aku mendengar suara teriakan yang memekakkan telinga. Kami berdua terkejut dan langsung melepaskan diri.

Kami menoleh ke arah suara itu. Mama berdiri di dekat pintu taman, wajahnya pucat pasi, matanya terbelalak karena terkejut dan ketakutan. Di belakangnya, berdiri beberapa pengawal keluarga, wajah mereka juga terlihat ketakutan.

"Aurora!" teriak Mama. "Ada... ada sesuatu yang terjadi! Ayahmu... Ayahmu..."

Aku berlari ke arahnya, jantungku berdebar kencang. "Apa yang terjadi, Ma? Apa yang terjadi dengan Ayah?"

Mama tidak menjawab. Dia hanya menunjuk ke arah Menara Damayanti, wajahnya dipenuhi dengan air mata.

Aku mengikuti arah pandangnya. Aku melihat asap mengepul dari salah satu jendela di lantai atas Menara. Jendela itu adalah... jendela kamar Ayah.

Api menyala di Menara Damayanti.