Malam Sebelum Ikrar Darah
Chapter 2 — Pesan di Balik Bingkai
Aku berlari, seolah ada iblis yang mengejarku, melewati kerumunan orang-orang yang panik dan terkejut. Aroma asap, pahit dan menusuk, kini telah bercampur dengan bau karet terbakar dan cat yang melepuh, memelintir lambungku hingga mual. Menara Damayanti, yang selama ini menjulang sebagai simbol kokoh kekayaan dan kekuasaan Keluarga Damayanti, kini berdiri dengan noda hitam pekat, seolah coretan tinta mematikan di kanvas langit malam yang gelap. Lidah-lidah api oranye menari-nari dengan buas di balik jendela kamar Ayah, memamerkan kehancuran yang tak terhindarkan dan menari-nari dalam irama kekalahan kami.
Petugas pemadam kebakaran sudah tiba, sirene mereka merobek keheningan yang mencekam. Orang-orang berseragam merah berhamburan, selang-selang raksasa diulurkan, tapi rasanya semua itu terlalu lambat. Setiap detik terasa seperti berabad-abad, setiap napas yang kuhirup adalah racun dari ketakutan. Mama mencoba menahan lenganku, tubuhnya gemetar, tapi aku sudah seperti kesetanan. Kakiku bergerak sendiri, melesat melewati paving blok yang dingin.
"Ayah!" gumamku, nama itu terasa asing di lidahku, seperti bara yang membakar. "Ayah ada di sana, Ma!" aku meronta.
Sebuah tangan yang kuat mencengkeram lenganku, bukan Mama. Aku berbalik, mataku bertemu dengan mata Adrian. Cengkeramannya kokoh, tidak menyakitkan, tapi juga tak bisa ditembus. Rahangnya mengeras, garis wajahnya tajam seperti pahatan. Di matanya, yang biasanya gelap dan penuh rahasia, kini terpantul nyala api yang sama dengan yang membakar kamarku sendiri, seolah dia merasakan panasnya.
"Kau tidak bisa masuk," katanya, suaranya rendah dan tegas, sebuah perintah yang tak terbantahkan. "Kau hanya akan menambah masalah. Biarkan mereka bekerja." Ada sesuatu di matanya. Bukan belas kasihan, bukan kemenangan, tapi... kekhawatiran? Atau hanya refleksi dari api yang sama yang menghanguskan hatiku? Aku tidak tahu. Aku tidak mau tahu.
"Lepaskan aku!" desisku, mencoba melepaskan diri dengan sekuat tenaga. "Kau tidak mengerti! Itu ayahku!"
"Aku mengerti," jawabnya, matanya tidak berkedip, mempertahankan tatapan intensnya. "Tapi ini bukan cara untuk menyelamatkannya. Dengarkan aku. Kau harus tetap tenang, Aurora. Jika kau ingin membantu, kau harus tetap waras." Kata-katanya, meskipun terdengar dingin, entah mengapa menancap. Entah karena otoritas dalam suaranya yang menghipnotis, atau karena kelelahan yang tiba-tiba melanda, aku berhenti meronta. Aku hanya menatapnya, api yang berkobar di belakangnya melukis bayangan aneh di wajahnya.
"Aku akan mencari tahu," lanjutnya, suaranya sedikit melunak, sebuah janji yang tak terucap. Dia melepaskan tanganku, tapi matanya tidak meninggalkanku, seolah takut aku akan menghilang ditelan asap. "Tetaplah di sini bersama ibumu. Aku akan bicara dengan kepala petugas. Aku punya beberapa kenalan di kepolisian." Sebelum aku sempat menjawab, dia sudah berbalik. Siluetnya yang tinggi menembus kerumunan, langkahnya mantap dan percaya diri, bergerak menuju barisan petugas pemadam kebakaran yang sibuk. Aku melihatnya sesaat berbicara dengan seorang pria berseragam, menunjuk ke arah jendela kamar Ayah. Apa yang dia lakukan? Mengapa dia membantu? Apakah ini bagian dari sandiwara barunya?
Waktu terasa berhenti. Setiap percikan api yang terbang ke langit adalah serpihan harapanku yang hancur, setiap hembusan angin yang membawa bau hangus adalah bisikan kematian. Mama memelukku erat, tubuhnya gemetar tanpa henti, isakannya pecah di telingaku. Aku hanya bisa memandang Menara Damayanti, rumah yang seharusnya menjadi benteng perlindungan, kini telah berubah menjadi neraka yang menelan. Di sampingku, Adrian berdiri tegak, tak bergerak, seolah dia adalah patung marmer yang dipahat dari malam itu sendiri. Keberadaannya anehnya menenangkan, namun juga mengancam. Dia adalah musuh, tapi entah mengapa, di tengah kekacauan ini, kehadirannya adalah satu-satunya jangkar yang aku miliki.
Berjam-jam berlalu dalam kabut keputusasaan yang mencekik. Api akhirnya berhasil dipadamkan, meninggalkan jejak hitam pekat dan bau hangus yang menyengat di mana-mana. Tim penyelamat akhirnya keluar, membawa sebuah tandu. Jantungku mencelos, darahku terasa berhenti mengalir.
"Ayah!" teriakku, berlari menerobos kerumunan. Mama juga ikut di belakangku, suaranya serak memanggil nama Ayah, seperti ratapan seorang ibu yang kehilangan anaknya.
Di atas tandu, tubuh Ayah terbaring kaku. Wajahnya menghitam oleh jelaga, sebagian rambutnya hangus dan lengket. Napasnya dangkal dan tidak teratur, sebuah perjuangan yang menyakitkan untuk setiap hembusan udara. Tapi dia masih hidup. Setidaknya, itulah yang dikatakan salah satu paramedis dengan suara monoton, seolah dia sudah terbiasa dengan pemandangan mengerikan seperti ini. Kata 'kritis' bergaung di kepalaku, menari-nari seperti hantu.
"Kritis," kata paramedis itu, matanya menatapku dengan simpati kosong. "Ada banyak asap yang terhirup dan luka bakar tingkat dua di beberapa bagian tubuhnya. Kami harus segera membawanya ke rumah sakit. Kondisinya sangat tidak stabil." Aku menggenggam tangan Ayah yang dingin. Kulitnya terasa kering dan rapuh, seperti daun kering yang siap hancur. Air mataku menetes membasahi tangannya, membersihkan sedikit jelaga. "Ayah... Ayah harus kuat," bisikku, suaraku nyaris tak terdengar.
Adrian kembali, wajahnya tanpa ekspresi, tapi matanya menatapku dengan intens, seolah ingin membaca setiap pikiran di kepalaku. "Mereka mengatakan penyebabnya kemungkinan korsleting listrik," katanya, berdiri di sampingku, bayangannya menjulang. "Tapi area api terlalu terfokus di satu titik. Dan ada beberapa hal yang tidak masuk akal." Mataku beralih padanya. "Maksudmu...?"
Dia menggelengkan kepala, menyiratkan bahwa ini bukan tempatnya untuk bicara. "Kita butuh penyelidikan lebih lanjut. Ini terlalu... kebetulan." Pandanganku kembali ke Ayah. Korsleting listrik? Atau memang ada yang sengaja melakukan ini? Perang bisnis antara Keluarga Damayanti dan Suryawinata telah berlangsung puluhan tahun, sebuah saga perseteruan yang tak pernah usai. Keluarga kami tidak punya musuh lain yang sekuat mereka, yang seberani ini. Tapi apakah Adrian dan keluarganya sekejam itu? Sanggup merencanakan upaya pembunuhan yang begitu keji? Pikiran itu membuat darahku mendidih, membakar setiap sel di tubuhku.
Ambulans membawa Ayah pergi, Mama ikut mendampingi, tatapannya tak pernah lepas dari Ayah. Aku ditinggalkan di sana, di tengah puing-puing sisa kebakaran, dengan Adrian yang menjadi satu-satunya saksi bisu dan mungkin juga partner dalam kehancuran ini.
Dinginnya malam menusuk kulit, tapi hatiku lebih dingin. Aku menatap Adrian. "Kau tahu sesuatu, bukan? Lebih dari sekadar korsleting listrik." Dia tidak mengelak. "Aku hanya tahu apa yang terlihat. Kebakaran di Menara Damayanti, tepat sebelum pernikahan yang menyatukan dua keluarga musuh bebuyutan. Kebetulan yang terlalu sempurna, bukan? Terlalu dramatis." Kata-katanya bagai pukulan di ulu hatiku. "Kau menuduh keluargamu sendiri?" Adrian mendesah, sebuah suara yang berat seperti batu. "Aku tidak menuduh siapa pun. Aku hanya mengatakan, setiap orang punya motif. Dan dalam perang, hal-hal seperti ini sering terjadi." Matanya menatapku lurus, intens. "Bagaimana dengan keluargamu, Aurora? Apakah mereka tidak punya musuh lain selain kami yang begitu berani melakukan ini?"
Pertanyaannya membuatku terdiam. Ayah memang keras dalam berbisnis, selalu ada intrik dan persaingan yang kejam. Tapi ini... ini bukan intrik biasa. Ini upaya pembunuhan, sebuah deklarasi perang yang paling kejam. "Ini bukan kecelakaan," kataku, suaraku rendah dan penuh tekad, setiap suku kata adalah sebuah sumpah. Aku tidak akan membiarkan ini berlalu begitu saja. Ayahku mungkin tidak bisa bicara sekarang, tubuhnya terperangkap dalam tidur yang menyakitkan, tapi aku bisa. Aku akan menjadi suaranya, menjadi tangannya, menjadi matanya. Aku akan mencari tahu kebenarannya, tidak peduli seberapa gelap atau seberapa menyakitkan itu. "Aku akan menyelidikinya. Aku akan menemukan pelakunya."
Adrian menatapku lama, ekspresinya tidak terbaca, seolah dia sedang memecahkan teka-teki yang rumit. "Apa yang bisa kau lakukan, seorang pewaris yang belum pernah memegang kendali penuh?" tanyanya, ada sedikit ejekan, namun juga rasa ingin tahu dalam suaranya. "Aku akan menggunakan semua sumber daya Keluarga Damayanti," jawabku, mengangkat dagu, mataku berkilat. "Aku akan mencari tahu siapa yang melakukan ini. Dan jika itu keluargamu..." Aku berhenti, tidak sanggup melanjutkan kalimat itu, bayangan perang total terlintas di benakku.
Sebuah senyum tipis, hampir tidak terlihat, muncul di bibirnya. Senyum itu tidak ramah, tapi juga tidak mengejek. Lebih seperti... pengakuan. "Aku bisa membantumu." Aku terkejut, alisku terangkat. "Membantuku? Mengapa kau mau membantu? Kau adalah Suryawinata!"
"Karena, Aurora," katanya, melangkah mendekatiku, bayangannya menutupi diriku, "Jika kita akan terikat dalam pernikahan, aku tidak ingin ada rahasia atau keraguan di antara kita. Aku tidak ingin menjadi suami dari wanita yang mencurigaiku setiap saat. Dan jika ada yang mencoba mengacaukan kesepakatan ini, baik dari pihakku atau pihakmu, aku ingin menemukannya dan menghancurkannya." Tangannya terulur, menyentuh pipiku. Sentuhan itu mengejutkan, dingin dan tak terduga, tapi anehnya menenangkan, seperti es yang menghentikan pendarahan. Dinginnya tangannya kontras dengan kehangatan kulitku yang membara, seolah dia mampu memadamkan api yang berkobar di dalam diriku. "Aku bisa membantumu mengakses informasi," katanya, suaranya kini lebih lembut, "Jaringan Suryawinata luas, lebih luas dari yang kau bayangkan. Aku juga bisa melindungimu, Aurora. Karena jika ini memang sabotase, mereka tidak akan berhenti sampai tujuannya tercapai. Kau akan menjadi target berikutnya." Kata-katanya adalah peringatan, tapi juga janji.
Aku menatap matanya, mencoba mencari tahu kebohongan di baliknya, mencari celah dalam topengnya. Tapi yang kutemukan hanya pantulan apiku sendiri, dan sesuatu yang lebih dalam, lebih gelap, yang tidak bisa kupahami. Apakah ini taktik baru? Atau dia benar-benar tulus? "Tapi..." Aku ragu. "Jika ini ternyata keluargamu, Adrian, apa yang akan kau lakukan? Apa yang akan kau korbankan?"
Wajahnya mengeras, bayangan kejam melintas di matanya, seperti predator yang baru saja menemukan mangsanya. "Jika itu keluargaku," katanya, suaranya seperti batu bergesekan, dingin dan mematikan, "Aku akan memastikan mereka membayar harganya. Tidak ada yang boleh menghancurkan rencanaku. Tidak ada." Renanya. Pernikahan ini adalah rencananya. Atau rencana keluarganya. Tapi ada sesuatu dalam tatapannya yang membuatku percaya bahwa, setidaknya untuk saat ini, dia berada di pihakku.
Keesokan paginya, di rumah sakit. Ayah masih dalam kondisi koma, terhubung dengan berbagai alat penunjang kehidupan. Mama Aurora duduk di sampingnya, matanya bengkak karena menangis semalaman, tangannya tak pernah lepas dari tangan Ayah. Aku berdiri di dekat jendela, memandang kota yang masih bergerak seolah tidak ada tragedi yang baru saja terjadi, seolah dunia berputar tanpa peduli pada kehancuran kami.
Pintu terbuka, dan Tuan Suryawinata masuk, diikuti oleh Nadia, adik Adrian. Nadia tampak tulus menyampaikan simpati, matanya penuh kesedihan yang tulus. Tapi Tuan Suryawinata... auranya tebal dan berat, seperti awan badai yang siap menumpahkan hujan es. Setiap gerakannya memancarkan kekuatan dan otoritas yang tak terbantahkan, seolah seluruh ruangan bergetar di bawah kehadirannya.
"Aurora," sapa Tuan Suryawinata, suaranya tenang, tapi ada nada mendominasi di dalamnya, sebuah peringatan terselubung. "Aku turut berduka atas apa yang menimpa Ayahmu." Dia melirik ke arah Ayah yang terbaring tak berdaya. "Ini adalah tragedi. Terutama saat kita akan merayakan penyatuan keluarga, momen penting bagi kedua belah pihak." Mama Aurora segera bangkit, wajahnya pucat pasi, tegang seperti senar biola yang ditarik terlalu kencang. "Tuan Suryawinata. Terima kasih sudah datang," suaranya bergetar.
"Tentu saja," jawab Tuan Suryawinata, tangannya terlipat di depan dada, tatapannya tajam seperti elang. "Keluarga kita akan segera bersatu. Masalah satu keluarga adalah masalah keluarga lainnya, bukan begitu?" Matanya beralih padaku, menembus jiwaku. "Namun, insiden ini menimbulkan pertanyaan serius. Apakah Keluarga Damayanti mampu menjaga kestabilan dalam kondisi seperti ini? Pernikahan ini bertujuan untuk mengakhiri perselisihan, bukan menciptakan masalah baru, Aurora." Aku mengepalkan tanganku. Ini bukan simpati. Ini adalah ancaman terselubung, sebuah pukulan telak. Dia meragukan kemampuanku, kemampuan keluargaku, untuk melanjutkan kesepakatan.
"Kami akan memastikan semuanya berjalan sesuai rencana, Tuan Suryawinata," kataku, suaraku setenang mungkin meskipun jantungku bergemuruh seperti genderang perang. "Insiden ini tidak akan mempengaruhi kesepakatan yang telah dibuat. Kami akan menepati janji kami." "Semoga begitu," jawabnya, matanya menyipit, "Adrian sudah melaporkan apa yang terjadi. Dia bilang, ada indikasi sabotase. Kami juga akan melakukan investigasi internal kami sendiri. Untuk memastikan tidak ada celah yang bisa dimanfaatkan musuh." Kata 'musuh' diucapkannya dengan penekanan, dan matanya melirik ke arahku seolah aku adalah bagian dari "musuh" itu.
Nadia, yang selama ini hanya diam, akhirnya angkat bicara, suaranya lembut namun tegas. "Ayah, ini bukan waktunya untuk membicarakan bisnis. Ayah Aurora sedang sakit parah." Tuan Suryawinata hanya mendengus pelan, ekspresinya tidak berubah. "Justru di saat seperti inilah, Nadia, kita harus memastikan fondasi tetap kokoh. Pernikahan ini adalah kunci perdamaian. Tidak ada yang boleh mengancamnya, tidak ada yang boleh menghalanginya." Dia menatapku lagi, tatapannya dingin dan penuh perhitungan, sebuah peringatan tanpa kata. "Kami berharap kau memahami situasinya, Aurora. Dengan kondisi Ayahmu seperti ini, kau harus mengambil alih kendali sepenuhnya. Tanggung jawab yang sangat besar kini ada di pundakmu yang masih muda. Terutama untuk memastikan pernikahan ini tetap berjalan tanpa hambatan, sesuai jadwal yang sudah ditentukan.' Kata-katanya adalah perintah yang dibungkus dalam kalimat perhatian, sebuah belati yang tersembunyi di balik sutra.
Meninggalkan kami dengan beban kata-katanya, Tuan Suryawinata dan Nadia pamit pergi. Mama menatapku dengan cemas, air mata kembali membasahi pipinya. "Aurora... apa yang harus kita lakukan?" bisiknya, suaranya penuh keputusasaan. "Ayah... dan sekarang Tuan Suryawinata juga... kita terjepit di antara dua batu besar."
Aku menoleh ke arah jendela, melihat pantulan wajahku sendiri yang pucat dan dipenuhi kekhawatiran. Aku bukan Ayah. Aku tidak pernah disiapkan untuk ini. Aku hanya seorang pewaris yang selalu dilindungi. Tapi sekarang, aku harus. Aku harus menjadi kuat. Untuk Ayah. Untuk Mama. Untuk Keluarga Damayanti. Aku bersumpah akan menemukan pelakunya dan melindungi apa yang tersisa dari kami.
Malam itu, setelah Mama tertidur lelap di samping Ayah, aku kembali ke Menara Damayanti. Bukan untuk tidur, tapi untuk mencari. Mencari kebenaran. Aku meminta akses ke semua laporan, rekaman CCTV, apa pun yang bisa memberiku petunjuk tentang apa yang sebenarnya terjadi. Seorang asisten keamanan, seorang pria paruh baya yang loyal pada keluarga kami, menghampiriku dan menyerahkan sebingkai foto.
"Nona Aurora, ini ditemukan di dekat tempat kebakaran, di bawah tumpukan puing-puing yang hangus. Sepertinya milik Tuan Damayanti, tapi anehnya... masih utuh, seolah dilindungi oleh keajaiban," katanya, suaranya bergetar karena rasa ingin tahu dan ketakutan. Aku mengambil bingkai foto itu, tanganku gemetar. Itu adalah foto lama, Ayah dan Mama saat mereka masih muda, tersenyum bahagia, sebuah memori dari masa lalu yang kini terasa begitu jauh dan penuh kebahagiaan yang hilang. Di balik bingkai itu, di antara kayu dan kaca yang retak, ada sesuatu yang terselip. Sebuah kertas kecil yang sudah sedikit hangus di tepiannya, namun masih bisa dibaca.
Dengan hati berdebar-debar, aku menarik kertas itu keluar. Itu adalah selembar pesan yang ditulis tangan, goresan tinta yang samar dan buram karena panas dan asap, tapi beberapa kata masih bisa kubaca dengan jelas, seolah diukir langsung ke dalam jiwaku.
*Akan ada yang mencoba... menjaga... dari dalam...*
Dan di bagian bawah, sebuah simbol kecil yang asing, seperti lingkaran yang terbelah dua dengan garis zig-zag di tengahnya, simbol yang belum pernah kulihat sebelumnya, namun terasa begitu mengancam, seperti tanda rahasia sebuah perkumpulan.
Mataku melebar, ketakutan mencengkeramku. Ini bukan kecelakaan. Ini peringatan. Ayah tahu. Ayah tahu seseorang akan melakukan ini. Dan dia mencoba memberitahuku, dari balik bara api yang melahapnya.
Dan kemudian, tepat saat aku merasakan dinginnya teror, sebuah pesan lain muncul di layar ponselku. Nomor tidak dikenal, tapi rasanya seperti suara hantu yang berbicara di telingaku, dingin dan menusuk.
"Kau melihat pesan Ayahmu, bukan? Jangan terlalu banyak bertanya, Aurora. Atau nyala api yang menelan Menara Damayanti, akan menelanmu juga. Berhenti mencari tahu."
Napasiku tercekat, udara terasa menipis. Seseorang mengawasiku. Seseorang tahu setiap gerak-gerikku. Seseorang yang sangat dekat, mungkin di antara bayangan, menunggu kesempatan untuk menyerang. Rahasia itu terasa seperti rantai yang membelengguku, dan ancaman itu adalah bayangan yang kini menari di setiap sudut hidupku.